Raedu Basha *
radarmadura.jawapos.com, 1/4/2019
Kalau Anda bertanya, siapakah salah seorang gembong sastra Indonesia di
Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, sehingga pesantren tersebut
dikenal sebagai ”lumbung santri penyair”? Jawabannya adalah, tidak lepas dari
seorang santri lelaki kelahiran Besuki, Jawa Timur, bernama Aryadi Mellas.
”Aryadi Mellas seumpama nabi bagi sastra dan kesenian di Pondok Pesantren
Annuqayah sendiri,” jawab M. Faizi, seorang pengasuh muda Pondok Pesantren
Annuqayah yang juga dikenal sebagai penyair, saat saya berkunjung ke rumahnya,
2 September 2015.
Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts
Saturday, August 28, 2021
Friday, August 27, 2021
Hakikat Bahasa, Mantra, dan Tanggung Jawab
(Tanggapan atas buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri)
Thursday, August 26, 2021
Tuesday, August 24, 2021
Menjadi “Indonesia” lewat Sastra Melayu Tionghoa
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Dalam pelajaran bahasa Indonesia di bangku sekolah dahulu saya selalu diajarkan bahwa karya sastra yang termasuk dalam Balai Pustaka adalah genre sastra Indonesia modern, seperti Belenggu, Siti Nurbaya, dan Salah Asuhan. Di luar karya sastra yang tidak tercantum dalam Balai Pustaka bukan bagian sastra Indonesia modern. Dengan kata lain, buku-buku sastra yang lain tidak patut dipelajari, karena bukan bagian dari detak sejarah sastra di Indonesia. Doktrin inilah yang membeku hingga sekarang. Lalu, kategori apa yang digunakan Balai Pustaka untuk menentukan bahwa sebuah karya termasuk sastra Indonesia modern? Prosedur apa yang diterapkan untuk menelisik ke-modern-an itu?
Dalam pelajaran bahasa Indonesia di bangku sekolah dahulu saya selalu diajarkan bahwa karya sastra yang termasuk dalam Balai Pustaka adalah genre sastra Indonesia modern, seperti Belenggu, Siti Nurbaya, dan Salah Asuhan. Di luar karya sastra yang tidak tercantum dalam Balai Pustaka bukan bagian sastra Indonesia modern. Dengan kata lain, buku-buku sastra yang lain tidak patut dipelajari, karena bukan bagian dari detak sejarah sastra di Indonesia. Doktrin inilah yang membeku hingga sekarang. Lalu, kategori apa yang digunakan Balai Pustaka untuk menentukan bahwa sebuah karya termasuk sastra Indonesia modern? Prosedur apa yang diterapkan untuk menelisik ke-modern-an itu?
Monday, August 23, 2021
Sunday, August 22, 2021
DONGENG DAN BAHASA AS LAKSANA
Umar Fauzi Ballah *
Kompas, 30 Mar 2014
“Dia menulis dengan cara mendongengkan, bisa juga dengan cara resensi,
atau cara esai. Semua teknik itu menjadi karnaval seperti pelangi.”
Ketika berhadapan dengan AS Laksana sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan dua rupa, yakni esai dan fiksinya. Selain piawai berbahasa dengan esai, ia juga piawai berbahasa dengan cerpen.
Kompas, 30 Mar 2014
“Dia menulis dengan cara mendongengkan, bisa juga dengan cara resensi,
atau cara esai. Semua teknik itu menjadi karnaval seperti pelangi.”
Ketika berhadapan dengan AS Laksana sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan dua rupa, yakni esai dan fiksinya. Selain piawai berbahasa dengan esai, ia juga piawai berbahasa dengan cerpen.
Friday, August 20, 2021
Denny JA adalah Muncikari yang Harus Dibunuh!
Denny JA, Kejahatan Intelektual, Pembodohan Sejarah Sastra Indonesia, Perusak Peradaban!
Thursday, August 19, 2021
Puisi dan Kabar dari Lautan
Misbahus Surur *
lampungpost.com
LAUT adalah metafora sekaligus sebuah “dunia”. Sebagai sebuah dunia, laut menjadi loka, atau setidaknya pintu gerbang, bagi sang tualang melabuhkan diri ke negeri-negeri yang tak diketahui. Guna menambatkan harapan-harapan baru yang (tak) terkonsep sebelumnya. Tempat si pengembara melupakan kegamangan dan kejumudan-kejumudan di daerah asal.
lampungpost.com
LAUT adalah metafora sekaligus sebuah “dunia”. Sebagai sebuah dunia, laut menjadi loka, atau setidaknya pintu gerbang, bagi sang tualang melabuhkan diri ke negeri-negeri yang tak diketahui. Guna menambatkan harapan-harapan baru yang (tak) terkonsep sebelumnya. Tempat si pengembara melupakan kegamangan dan kejumudan-kejumudan di daerah asal.
Monday, August 16, 2021
DENNY JA BAGAI TUPAI TERGELINCIR
Remy Sylado
facebook.com/RemySylado23761
DENNY JA yang bersyahwat besar untuk dibilang dirinya ‘penyair’, tapi dengan puisi kelas kriya atau kerajinan-tangan – berhubung puisinya tidak puitis dan esainya tidak desertatif – berkata dengan congkak bahwa kesalahan saya adalah kesalahan logika, maka dia menuntut saya untuk merespon pernyatannya itu.
facebook.com/RemySylado23761
DENNY JA yang bersyahwat besar untuk dibilang dirinya ‘penyair’, tapi dengan puisi kelas kriya atau kerajinan-tangan – berhubung puisinya tidak puitis dan esainya tidak desertatif – berkata dengan congkak bahwa kesalahan saya adalah kesalahan logika, maka dia menuntut saya untuk merespon pernyatannya itu.
Thursday, August 12, 2021
Saat Sastra(wan) Jadi Komentator Lapangan
Misbahus Surur
lampungpost.com
Permainan sepak bola efektif dan permainan alur cantik, mana yang lebih menarik? Jamak pengamat bilang, yang pertama barangkali representasi permainan Inter Milan di bawah kendali Jose Mourinho. Sedang yang kedua, lebih ke model permainan klub-klub Spanyol, terutama Barcelona di bawah tangan dingin Josep Guardiola.
lampungpost.com
Permainan sepak bola efektif dan permainan alur cantik, mana yang lebih menarik? Jamak pengamat bilang, yang pertama barangkali representasi permainan Inter Milan di bawah kendali Jose Mourinho. Sedang yang kedua, lebih ke model permainan klub-klub Spanyol, terutama Barcelona di bawah tangan dingin Josep Guardiola.
Wednesday, August 11, 2021
MENCARI SASTRA DAERAH BUGIS (MAKASSAR) DI TENGAH KONSTELASI SASTRA NASIONAL
Badaruddin Amir
Sastra Bugis memang belum banyak ditulis. Di tengah konstelasi sastra nasional sastra Bugis seolah-olah berhenti pada periode sastra klasik. Setelah itu tak ada generasi yang melanjutkan tradisi bersastra dari para empu atau bujangga ‘anonim’ yang pernah menciptakan Pau-Pau Rikadong, atau menyusun kembali Sureq Meong Palo Karellae, atau syair-syair lagu (yang juga boleh disebut sastra) seperti Bulu Alau’na Tempe, Indo Logo, Ongkona Sidenreng dan sebagainya. Lagu-lagu Bugis klasik itu juga dikarang oleh para empu ‘anonim’.Tuesday, August 10, 2021
Ruang Ruang Korupsi
Teater “Skolah Skandal”
S. Jai *
DRAMAWAN Akhudiat hingga usia 65 tahun masih membuktikan diri dengan karya teater terbarunya, Skolah Skanda. Kali ini bersama komunitas Sanggar Merah Putih. Drama berdurasi kurang lebih satu jam itu Kamis (3/11) malam tampil dalam ajang Festival Seni Surabaya di Taman Budaya Jawa Timur.
S. Jai *
DRAMAWAN Akhudiat hingga usia 65 tahun masih membuktikan diri dengan karya teater terbarunya, Skolah Skanda. Kali ini bersama komunitas Sanggar Merah Putih. Drama berdurasi kurang lebih satu jam itu Kamis (3/11) malam tampil dalam ajang Festival Seni Surabaya di Taman Budaya Jawa Timur.
SENSIBILITAS BERTRIWIKRAMA TUHAN DALAM SAJAK IBERAMSYAH BARBARY
Hudan Nur *
SAYA percaya dengan Iyut Fitra bahwa semakin banyak menulis puisi maka akan terasa semakin sulit. Timbul ketakutan terjadinya pengulangan-pengulangan, entah itu diksi, gaya dan tema. Sehingga semakin tinggi usia penyair maka puisinya akan semakin sedikit, tidak sebanyak di awal-awal kepenyairan yang masih cair dan mencari. Akibatnya produktifitas menjadi terhambat. Karenanya, boleh jadi Iberamsyah Barbary (IB) yang sebelumnya membukukan sajak-sajak situasinya yang privat ke dalam Serumpun Ayat-Ayat Tuhan juga mengalami keterbatasan produksi, di samping kesempatan untuk memuja kata-kata yang minus.Monday, August 9, 2021
Inspirat Al-Nafis
Hasan Aspahani *
batampos.co.id
AKA baginda pun menyuruh Punggawa Bakak menebas Pulau Penyengat Indera Sakti itu cucikan kerana Punggawa itu dia duduk di Penyengat ada empat lima buah rumah. Maka apabila sudah cuci Pulau Penyengat itu ditebas. Maka baginda pun membuat istana dengan kota paritnya dengan masjid balairungnya. Adalah yang memerintahkan segala pekerjaan itu Encik Kaluk bin Encik Suluh peranakan Bugis. Maka tiada berapa antaranya selesailah pekerjaan itu. Maka apabila selesai Pulau Penyengat itu jadi negeri tempat kerajaan maka baginda pun memindahkan paduka adinda Engku Puteri yaitu Raja Hamidah isterinya, ke istana Pulau Penyengat dengan orang baiknya dan anak raja seratanya.
batampos.co.id
AKA baginda pun menyuruh Punggawa Bakak menebas Pulau Penyengat Indera Sakti itu cucikan kerana Punggawa itu dia duduk di Penyengat ada empat lima buah rumah. Maka apabila sudah cuci Pulau Penyengat itu ditebas. Maka baginda pun membuat istana dengan kota paritnya dengan masjid balairungnya. Adalah yang memerintahkan segala pekerjaan itu Encik Kaluk bin Encik Suluh peranakan Bugis. Maka tiada berapa antaranya selesailah pekerjaan itu. Maka apabila selesai Pulau Penyengat itu jadi negeri tempat kerajaan maka baginda pun memindahkan paduka adinda Engku Puteri yaitu Raja Hamidah isterinya, ke istana Pulau Penyengat dengan orang baiknya dan anak raja seratanya.
Sunday, August 8, 2021
La Runduma dalam Kentalnya Warna Lokal
Maman S. Mahayana
nfoanda.com/Republika
Dalam kentalnya warna lokal, cerpen La Runduma karya Wa Ode Wulan Ratna berhasil memenangkan juara pertama Sayembara Menulis Cerpen Creative Writing Institute (CWI) 2005. Cerpen yang mengangkat tradisi unik etnis Buton, khususnya tentang peristiwa upacara posuo ritual dalam tradisi pingitan adat keraton Buton itu sekaligus mewakili dominannya warna lokal pada hampir semua cerpen peserta sayembara tahunan ini, terutama yang terpilih sebagai cerpen terbaik. Cerpen Orang-orang Pos 327 karya Muhammad Nasir Age, yang menempati juara kedua, juga mengangkat persoalan lokalitas konflik Aceh sebagai tema sekaligus latar cerita. Begitu juga cerpen Abu Nipah karya Herman R yang meraih juara ketiga.
nfoanda.com/Republika
Dalam kentalnya warna lokal, cerpen La Runduma karya Wa Ode Wulan Ratna berhasil memenangkan juara pertama Sayembara Menulis Cerpen Creative Writing Institute (CWI) 2005. Cerpen yang mengangkat tradisi unik etnis Buton, khususnya tentang peristiwa upacara posuo ritual dalam tradisi pingitan adat keraton Buton itu sekaligus mewakili dominannya warna lokal pada hampir semua cerpen peserta sayembara tahunan ini, terutama yang terpilih sebagai cerpen terbaik. Cerpen Orang-orang Pos 327 karya Muhammad Nasir Age, yang menempati juara kedua, juga mengangkat persoalan lokalitas konflik Aceh sebagai tema sekaligus latar cerita. Begitu juga cerpen Abu Nipah karya Herman R yang meraih juara ketiga.
Wednesday, August 4, 2021
Partai
Agus R. Sarjono *
Majalah Tempo, 3 Okt 2011
Partai yang selalu besar jumlah anggotanya dalam semua cerita silat (cersil) Cina, khususnya peranakan Indonesia, adalah Partai Pengemis alias Kay Pang. Partai terbesar ini biasanya ditandai oleh pakaian mereka yang tambalan, dan “Ilmu Tongkat Penggebuk Anjing”, ilmu silat tertinggi khusus buat ketua partainya. Kwee Cheng, tokoh utama Pendekar Rajawali Sakti karya Chin Yung, adalah murid ketua Partai Pengemis.
Majalah Tempo, 3 Okt 2011
Partai yang selalu besar jumlah anggotanya dalam semua cerita silat (cersil) Cina, khususnya peranakan Indonesia, adalah Partai Pengemis alias Kay Pang. Partai terbesar ini biasanya ditandai oleh pakaian mereka yang tambalan, dan “Ilmu Tongkat Penggebuk Anjing”, ilmu silat tertinggi khusus buat ketua partainya. Kwee Cheng, tokoh utama Pendekar Rajawali Sakti karya Chin Yung, adalah murid ketua Partai Pengemis.
Tuesday, August 3, 2021
FUNGSI APRESIASI SASTRA (6)
Djoko Saryono
Sebelumnya sudah dikemukakan bahwa apresiasi sastra bertujuan menyelenggarakan perjamuan dan percakapan imajinatif-literer agar terhidang atau tersuguh (i) pengalaman, (ii) pengetahuan, (iii) kesadaran, dan (iv) hiburan. Agar tujuan ini tercapai, apresiasi sastra mengemban fungsi tertentu. Di sini fungsi merupakan suatu jalan atau wahana tercapainya tujuan-tujuan apresiasi sastra. Diselaraskan dengan tujuan yang akan dicapai, fungsi apresiasi sastra juga dapat digolongkan menjadi empat macam, yaitu (i) fungsi eksperensial, (ii) fungsi informasional, (iii) fungsi penyadaran (konsientisasi), dan (iv) fungsi rekreatif. Keempat fungsi ini diulas berikut ini.
Sebelumnya sudah dikemukakan bahwa apresiasi sastra bertujuan menyelenggarakan perjamuan dan percakapan imajinatif-literer agar terhidang atau tersuguh (i) pengalaman, (ii) pengetahuan, (iii) kesadaran, dan (iv) hiburan. Agar tujuan ini tercapai, apresiasi sastra mengemban fungsi tertentu. Di sini fungsi merupakan suatu jalan atau wahana tercapainya tujuan-tujuan apresiasi sastra. Diselaraskan dengan tujuan yang akan dicapai, fungsi apresiasi sastra juga dapat digolongkan menjadi empat macam, yaitu (i) fungsi eksperensial, (ii) fungsi informasional, (iii) fungsi penyadaran (konsientisasi), dan (iv) fungsi rekreatif. Keempat fungsi ini diulas berikut ini.
Problematika Pengajaran Sastra di Sekolah
Mahmud Jauhari Ali *
banjarmasinpost.co.id
Di tengah ramainya tuntutan guru untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak bagi mereka, sudahkah mereka itu berkontemplasi.
Maksudnya adalah merenungi atas hal yang telah mereka perbuat dalam dunia pendidikan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sastra merupakan bagian intergral dalam dunia pendidikan tersebut yang diajarkan di tiap jenjang pendidikan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.
banjarmasinpost.co.id
Di tengah ramainya tuntutan guru untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak bagi mereka, sudahkah mereka itu berkontemplasi.
Maksudnya adalah merenungi atas hal yang telah mereka perbuat dalam dunia pendidikan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sastra merupakan bagian intergral dalam dunia pendidikan tersebut yang diajarkan di tiap jenjang pendidikan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.
Sastra Berduka di Sekolah
Anjrah Lelono Broto
Ada sebuah kedukaan yang mendalam ketika “Teater Sansesus SMAN 2 Jombang”, harus kehilangan sanggarnya karena digusur oleh “Sang Pembuat Kebijakan” lembaga pendidikan. Meski harus jujur diakui, kedukaan ini bersifat pribadi dan berpijak pada ikatan sejarah masa lalu sebagai alumni, akan tetapi kenyataan “penggusuran” ini makin memperkuat wacana politik pemerintah yang cenderung iliterasi. Keberadaan sebuah kelompok kegiatan ektrakurikuler berbasis kesenian dan kebudayaan di sebuah lembaga pendidikan, secara mendasar, merupakan wahana pembelajaran dan pendalaman teks-teks kesenian dan kebudayaan, seperti sastra, tari, lukis, dan teater itu sendiri.
Ada sebuah kedukaan yang mendalam ketika “Teater Sansesus SMAN 2 Jombang”, harus kehilangan sanggarnya karena digusur oleh “Sang Pembuat Kebijakan” lembaga pendidikan. Meski harus jujur diakui, kedukaan ini bersifat pribadi dan berpijak pada ikatan sejarah masa lalu sebagai alumni, akan tetapi kenyataan “penggusuran” ini makin memperkuat wacana politik pemerintah yang cenderung iliterasi. Keberadaan sebuah kelompok kegiatan ektrakurikuler berbasis kesenian dan kebudayaan di sebuah lembaga pendidikan, secara mendasar, merupakan wahana pembelajaran dan pendalaman teks-teks kesenian dan kebudayaan, seperti sastra, tari, lukis, dan teater itu sendiri.
Menengok Rak Sastra di Sekolah
F. Daus AR
annida-online.com
Dua belas tahun adalah waktu yang di tempuh untuk menyelesaikan masa study dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Bagi mereka yang pernah melalui masa itu, tentunya telah akrab dengan pelajaran-pelajaran dasar semisal pengalaman pertama mengeja huruf di sekolah dasar, pelajaran membaca di sekolah menengah pertama, dan pelajaran mengarang di sekolah menengah atas. Kesemua itu termaktub kedalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
annida-online.com
Dua belas tahun adalah waktu yang di tempuh untuk menyelesaikan masa study dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Bagi mereka yang pernah melalui masa itu, tentunya telah akrab dengan pelajaran-pelajaran dasar semisal pengalaman pertama mengeja huruf di sekolah dasar, pelajaran membaca di sekolah menengah pertama, dan pelajaran mengarang di sekolah menengah atas. Kesemua itu termaktub kedalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)
A. Anzieb
A. Muttaqin
A. Qorib Hidayatullah
A. Rifqi Hidayat
A. Rodhi Murtadho
A. Syauqi Sumbawi
A.J. Susmana
A.S. Laksana
A'yat Khalili
Abdul Hadi WM
Abdul Hopid
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Acep Zamzam Noor
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agus B. Harianto
Agus Dermawan T.
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agusri Junaidi
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Ali Audah
Alim Bakhtiar
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Hamzah
Ana Mustamin
Andhika Mappasomba
Andi Achdian
Andrenaline Katarsis
Anjrah Lelono Broto
Anton Wahyudi
Anwar Holid
Aprinus Salam
Arafat Nur
Ardy Kresna Crenata
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Wibowo
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Aryadi Mellas
Aryo Bhawono
Asap Studio
Asarpin
Asep Rahmat Hidayat
Asep Sambodja
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
B Kunto Wibisono
Badaruddin Amir
Balada
Bambang Kempling
Bambang Soebendo
Banjir Bandang
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Binhad Nurrohmat
Boy Mihaballo
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairil Gibran Ramadhan
D. Zawawi Imron
D.N. Aidit
Daisy Priyanti
Dandy Bayu Bramasta
Daniel Dhakidae
Dareen Tatour
Dea Anugrah
Dedy Sufriadi
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Deni Jazuli
Denny JA
Denny Mizhar
Desti Fatin Fauziyyah
Dewi Sartika
Dhanu Priyo Prabowo
Dharmadi
Diah Budiana
Dian Hartati
Didin Tulus
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Donny Anggoro
Dwi Pranoto
Echa Panrita Lopi
Eddi Koben
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Faizin
Emha Ainun Nadjib
Enda Menzies
Erlina P. Lestari
Erwin Dariyanto
Esai
Esti Ambirati
Evi Idawati
Evi Sefiani
F. Daus AR
F. Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fandy Hutari
Farah Noersativa
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Faza Bina Al-Alim
Felix K. Nesi
Ferdian Ananda Majni
Fian Firatmaja
Gampang Prawoto
Gema Erika Nugroho
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Gombloh
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Gus Noy
H.B. Jassin
Hairus Salim
Hamka
Hamsad Rangkuti
Hari Murti
Haris Firdaus
Harry Aveling
Hasan Aspahani
Hasif Amini
HE. Benyamine
Hendri Yetus Siswono
Herman Syahara
Hermien Y. Kleden
Holy Adib
Huda S Noor
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Humam S Chudori
Husni Hamisi
I G.G. Maha Adi
Iberamsyah Barbary
Ida Fitri
Idealisa Masyrafina
Idrus
Ignas Kleden
Ikarisma Kusmalina
Ike Ayuwandari
Ilham
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indria Pamuhapsari
Indrian Koto
Irfan Sholeh Fauzi
Isbedy Stiawan Z.S.
J.J. Kusni
Jadid Al Farisy
Jajang R Kawentar
Jakob Oetama
Jalaluddin Rakhmat
Jansen H. Sinamo
Joni Ariadinata
K.H. Bisri Syansuri
K.H. M. Najib Muhammad
Kahfi Ananda Giatama
Kahfie Nazaruddin
Kho Ping Hoo
Kika Dhersy Putri
Kitab Para Malaikat
Kritik Sastra
Kucing Oren
Kunni Masrohanti
Kuswinarto
L.K. Ara
Lagu
Laksmi Shitaresmi
Lan Fang
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Leon Agusta
Lesbumi Yogyakarta
Lily Yulianti Farid
Linda Christanty
Linda Sarmili
Lukisan
Lutfi Mardiansyah
Luwu Utara
M. Aan Mansyur
M. Faizi
M. Raudah Jambak
M. Shoim Anwar
M.D. Atmaja
M’Shoe
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Majene
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mamasa
Mamuju
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maroeli Simbolon
Martin Aleida
Masamba
Mashuri
Media KAMA_PO
Melani Budianta
Mihar Harahap
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Moh. Jauhar al-Hakimi
Mohammad Afifi
Mohammad Yamin
Much. Khoiri
Muhammad Fauzi
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Ridwan
Muhammad Subarkah
Muhammad Walidin
Muhammad Yasir
Muhyiddin
Mukhsin Amar
Munawir Aziz
Musa Ismail
Mustamin Almandary
N Teguh Prasetyo
Nadine Gordimer
Nara Ahirullah
Nelson Alwi
Nikita Mirzani
Nirwan Ahmad Arsuka
Nizar Qabbani
Nugroho Sukmanto
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Asyhadie
Nurul Komariyah
Ocehan
Onghokham
Otto Sukatno CR
Pamela Allen
Pameran
Parakitri T. Simbolon
Pelukis
Pendidikan
Penggalangan Dana
Peta Provinsi Sulawesi Barat
Polewali
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Salafiyah Karossa
Pramoedya Ananta Toer
Pramuka
Prasetyo Agung
Pringadi AS
Pringgo HR
Priska
Prosa
Pudyo Saptono
Puisi
Puput Amiranti N
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R Sutandya Yudha Khaidar
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Ragdi F. Daye
Rahmadi Usman
Rahmat Sudirman
Rahmat Sutandya Yudhanto
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Prabu
Ratnani Latifah
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Riadi Ngasiran
Rian Harahap
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Riki Fernando
Rofiqi Hasan
Ronny Agustinus
Rozi Kembara
Rusydi Zamzami
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Safar Nurhan
Saini K.M.
Sajak
Salman Rusydie Anwar
Salman S Yoga
Samsul Anam
Sapardi Djoko Damono
Sapto Hoedojo
Sasti Gotama
Sastra
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Seni Rupa
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sirajudin
Siswoyo
Sitok Srengenge
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sonia
Sosiawan Leak
Sukitman
Sulawesi Selatan
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suriali Andi Kustomo
Suryanto Sastroatmodjo
Susi Ivvaty
Susianna
Sutan Takdir Alisjahbana
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syaifuddin Gani
Syamsudin Noer Moenadi
Syihabuddin Qalyubi
Syu’bah Asa
Tari Bamba Manurung
Tari Bulu Londong
Tari Ma’Bundu
Tari Mappande Banua
Tari Patuddu
Tari Salabose Daeng Poralle
Tari Sayyang Pattuqduq
Tari Toerang Batu
Tata Chacha
Tatan Daniel
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teater
Teddi Muhtadin
Teguh Setiawan Pinang
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tito Sianipar
Tjahjono Widijanto
Toeti Heraty
Tosiani
Tri Wahono
Udin Badruddin
Udo Z. Karzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Usman Arrumy
UU Hamidy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wan Anwar
Wawancara
Wayan Sunarta
Welly Kuswanto
Wicaksono
Wicaksono Adi
Wilson Nadeak
Wisata
Yohanes Sehandi
Yonatan Raharjo
Yopie Setia Umbara
Yosephine Maryati
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yurnaldi
Zamakhsyari Abrar


