Sunday, August 8, 2021
La Runduma dalam Kentalnya Warna Lokal
nfoanda.com/Republika
Dalam kentalnya warna lokal, cerpen La Runduma karya Wa Ode Wulan Ratna berhasil memenangkan juara pertama Sayembara Menulis Cerpen Creative Writing Institute (CWI) 2005. Cerpen yang mengangkat tradisi unik etnis Buton, khususnya tentang peristiwa upacara posuo ritual dalam tradisi pingitan adat keraton Buton itu sekaligus mewakili dominannya warna lokal pada hampir semua cerpen peserta sayembara tahunan ini, terutama yang terpilih sebagai cerpen terbaik. Cerpen Orang-orang Pos 327 karya Muhammad Nasir Age, yang menempati juara kedua, juga mengangkat persoalan lokalitas konflik Aceh sebagai tema sekaligus latar cerita. Begitu juga cerpen Abu Nipah karya Herman R yang meraih juara ketiga.
Wednesday, August 4, 2021
SEPASANG LILIN DI RUMAH MALAIKAT
Dibandingkan teman-teman dari Pekanbaru, Tanjungpinang, Batam, dan Padang; juga teman-teman dari Malaysia dan Brunei Darussalam, saya terlambat mengenalnya: novelis Singapura yang prolifik dan humanis. Namanya Rohani Din. Sekitar 20-an novel sudah dihasilkannya. Novel-novelnya tebal. Satu di antaranya, berjudul Diari Bonda (Kuala Lumpur: Creative Enterprise Sdn. Bhd., 2004, 738 halaman) yang dalam setahun penerbitannya telah mengalami cetak ulang.
Tuesday, August 3, 2021
ENSIKLOPEDI SASTRA INDONESIA: TEBAL DAN GAGAH?
Hasanuddin WS, dkk. Ensiklopedi Sastra Indonesia (Bandung: Titian Ilmu, 2004, xiii + 889 halaman)
Dibandingkan kamus yang penjelasan tentang entrinya lazim dalam bentuk sinonim atau keterangan ringkas, ensiklopedi menguraikannya secara luas. Malahan, sering kali penjelasannya itu cenderung lebih rinci dan mendalam. Itulah yang membedakan kamus dengan ensiklopedi. Demikian juga dengan Ensiklopedi Sastra Indonesia ini. Penjelasan setiap entrinya hampir mendekati itu. Bahkan, beberapa novel yang masuk sebagai entri ensiklopedi ini, dibuat ringkasannya, dan disertakan pula gambar jilidnya.
Monday, June 21, 2021
PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN HADIAH MAGSAYSAY
Apa maknanya hadiah Magsaysay bagi kebudayaan dan kemanusiaan? Penghargaan atas nama mendiang Presiden Filipina, Ramon Magsaysay (1907—1957) yang tewas dalam kecelakaan pesawat tahun 1957 itu dimaksudkan sebagai penghormatan kepada seseorang yang mempunyai kebesaran jiwa dan semangat, integritas dan perjuangan untuk kebebasan. Pendirian Yayasan Hadiah Magsaysay dilakukan sejumlah seniman dan cendekiawan Filipina untuk menghormati jasa-jasa mendiang presiden ke-3 Filipina itu.
MASIH SEPUTAR PENJURIAN YANG MISTERIUS
Sebuah amplop cukup besar, saya terima, 7 Januari 2002. Isinya, satu plakat agak mewah dan selembar surat. Ternyata, pengirimnya Panitia Panyelenggara Khatulistwa Literary Award (KLA) Indonesia’s Best Fiction Award 2000-2001. Plakat dimaksudkan sebagai simbol pernyataan keberterimaan dan barangkali juga penghargaan dari Panitia Panyelenggara, sedangkan surat dapatlah dianggap sebagai utusan panitia itu yang hendak menyampaikan ucapan terima kasih kepada juri.
Thursday, June 17, 2021
SELAMAT JALAN, MANG!
Suatu siang di sebuah gudang di kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) Rawamangun. Seseorang telentang di antara serakan dan tumpukan buku. Asyik-masyuk. Tak peduli pada hiruk-pikuk mahasiswa, karyawan, dan sejumlah dosen. Orang itu bagai tenggelam dalam buku yang sedang dibacanya. Buku ukuran kecil yang digenggamnya itu kemudian dilemparkan begitu saja. Segera, tangannya meraih buku jilid berikutnya; sebuah serial silat SH Mintarja, Api di Bukit Menorah. Ia tenggelam lagi. Pastilah serial silat Khoo Ping Ho yang bertumpuk dalam ikatan karet gelang, masih sabar menunggu giliran. Tak ada yang berani mengganggu.
Saturday, June 12, 2021
Puisi-Puisi Maman S. Mahayana
TAK ADA PERANG DI PALESTINA
Perang adalah pepohonan tumbangmenggugurkan dahan dan batang
membiarkan dedaunan tumpas
melayang diterjang senapan
dan anak-anak dibesarkan dalam dendam
dan perempuan menangis menyimpan tragedi panjang
Friday, November 6, 2020
PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN
Maman S. Mahayana *
Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer (low culture) makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah-olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa, pantun seperti tidak lebih dari sekadar produk budaya Melayu, dan oleh karena itu, dianggap hanya milik orang Melayu.
Thursday, September 10, 2020
ORANG HEBAT ITU PERGI MENINGGALKAN MITOS KESEDERHANAAN
Maman S. Mahayana
Berita duka hari ini, Rabu, 9 September 2020, berseliweran di media sosial dan grup-grup WhatsApp. Tokoh Pendiri Kompas Gramedia yang juga Pemimpin Umum Harian Kompas, Bapak Jakob Oetama, wafat pukul 13:05 WIB di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta, dalam usia 88 tahun. Pada Kamis, 10 September 2020, almarhum akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Thursday, August 27, 2020
IRONI TOETI HERATY
Maman S. Mahayana *
"Toeti Heraty adalah satu-satunya wanita penyair di tengah para penyair Indonesia mutakhir yang terkemuka." [1] Demikian A. Teeuw mengawali komentarnya ketika memasuki topik pembicaraan Toeti Heraty di dalam konteks penyair Indonesia pasca-1966. Pernyataan kritikus sastra asal Belanda itu tentu bukan tanpa alasan. Ia memandang, kepenyairan wanita kelahiran Bandung, 27 November 1933 itu sangat khas. Oleh karena itu, ia punya tempat tersendiri di dalam peta kepenyairan Indonesia.