Eka Kurniawan *
Jawa Pos, 22 Agu 2021
Budi Darma merupakan satu di antara sedikit penulis langka. Ketika kita
sering mendengar banyak keluhan tentang kenapa segala ihwal Indonesia ditulis
para penulis asing, dalam hal ini ”Barat”, bahwa Indonesia (atau bahkan Asia)
harus menulis dirinya sendiri, Budi Darma melompat lebih jauh.
Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts
Monday, August 30, 2021
Saturday, August 28, 2021
Monday, August 23, 2021
Perempuan Berbibir Basah
Mengenang Budi Darma lewat Bibir yang Selalu Basah itu, Prosa Taufiq Wr.
Hidayat
Fatah Yasin Noor
Budi Darma menulis demi menulis itu sendiri. Kalimat-kalimat yang ia tulis selalu enak dibaca dan selalu menyenangkan hati. Kalau ada kemuraman dalam kata-katanya, percayalah, itu bukan kemuraman demi kemuraman itu sendiri. Budi Darma ditakdirkan menjadi sastrawan terkemuka di Indonesia karena ia suka menulis demi menulis itu sendiri. Kemuraman yang terekam dalam sekian banyak tulisannya adalah kejujuran. Budi mencoba meneropong dirinya sendiri. Kadang hasil teropongannya ngelantur mengerikan. Budi Darma selalu gelisah, dan yakin dibalik masyarakat lingkungannya yang seolah berjalan normal tak lain dan tak bukan adalah abnormal.
Fatah Yasin Noor
Budi Darma menulis demi menulis itu sendiri. Kalimat-kalimat yang ia tulis selalu enak dibaca dan selalu menyenangkan hati. Kalau ada kemuraman dalam kata-katanya, percayalah, itu bukan kemuraman demi kemuraman itu sendiri. Budi Darma ditakdirkan menjadi sastrawan terkemuka di Indonesia karena ia suka menulis demi menulis itu sendiri. Kemuraman yang terekam dalam sekian banyak tulisannya adalah kejujuran. Budi mencoba meneropong dirinya sendiri. Kadang hasil teropongannya ngelantur mengerikan. Budi Darma selalu gelisah, dan yakin dibalik masyarakat lingkungannya yang seolah berjalan normal tak lain dan tak bukan adalah abnormal.
Sunday, August 22, 2021
Thursday, August 19, 2021
Cara Felix K. Nesi Melahirkan Orang-Orang Oetimu
Dikirim dari E-Mail Yahoo ke Google
Indria Pamuhapsari *
Jawa Pos, 31 Okt 2019
Orang-Orang Oetimu lahir lewat kertas folio, lalu dipindah ke laptop pinjaman, dicetak, diedit ulang, kemudian diketik lagi. Karena tak ada uang, tumpukan dokumen awal novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta itu sudah habis dikilokan.
***
SEMBARI duduk, Felix K. Nesi langsung mengangkat tangan kanan. Hampir setinggi dagu.
Indria Pamuhapsari *
Jawa Pos, 31 Okt 2019
Orang-Orang Oetimu lahir lewat kertas folio, lalu dipindah ke laptop pinjaman, dicetak, diedit ulang, kemudian diketik lagi. Karena tak ada uang, tumpukan dokumen awal novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta itu sudah habis dikilokan.
***
SEMBARI duduk, Felix K. Nesi langsung mengangkat tangan kanan. Hampir setinggi dagu.
PUISI-PUISI YANG BERSELIMUT TEBAL
Ragdi F. Daye
harianhaluan.com, 27 Maret 2011
Sebagai karya sastra, puisi mengekspresikan pengalaman hidup manusia dan pemahamannya tentang kehidupan melalui bahasa yang estetis. Berbeda dengan prosa yang mempunyai peluang menyampaikan maksud dengan kapasitas ruang ekspresi yang cukup luas, puisi memadatkan gagasan dalam tubuh yang ramping. Konsekuensinya, puisi perlu menyaring dan memilah kata-kata secara lebih ekstrem untuk menghantarkan maksud pengarangnya. Bahasa dalam puisi merupakan kristalisasi atas bahasa yang biasa digunakan dalam keseharian. Inilah yang menimbulkan aspek estetika di dalam tubuh unik puisi.
harianhaluan.com, 27 Maret 2011
Sebagai karya sastra, puisi mengekspresikan pengalaman hidup manusia dan pemahamannya tentang kehidupan melalui bahasa yang estetis. Berbeda dengan prosa yang mempunyai peluang menyampaikan maksud dengan kapasitas ruang ekspresi yang cukup luas, puisi memadatkan gagasan dalam tubuh yang ramping. Konsekuensinya, puisi perlu menyaring dan memilah kata-kata secara lebih ekstrem untuk menghantarkan maksud pengarangnya. Bahasa dalam puisi merupakan kristalisasi atas bahasa yang biasa digunakan dalam keseharian. Inilah yang menimbulkan aspek estetika di dalam tubuh unik puisi.
Catatan Singkat: Merdeka itu Berjalan di atas Cita-cita!
Nurel Javissyarqi *
Sudah lama tak menulis lewat status facebook. Untuk memulainya kembali, yang ringan-ringan dulu. Kali ini, ditujukan pada orang-orang yang mencemburi saya atas kengangguran diri pribadi. Semoga nanti, tiadalah terbersit tindakan somse, kecuali demi mereka tak cemburu lagi atau kembalilah saling menginsyafi. Ada-ada saja pertanyaan seolah ingin tahu perputaran uang di saku, semisal “Selama ini tidak pernah menghasilkan uang dari website?” Batin ini agaknya berontak, “Jangan hubungkan sastra dengan uang di hadapan saya!” Selanjutnya, sambil dengar musik Mehter Ottoman, diperturutkan ini lelangkah... Bismillah... (Sepertinya agak sungkan, tapi biarkanlah dituntaskan guna pada ‘mingkem’, dan tiada pertanyaan semacam itu lagi).
Sudah lama tak menulis lewat status facebook. Untuk memulainya kembali, yang ringan-ringan dulu. Kali ini, ditujukan pada orang-orang yang mencemburi saya atas kengangguran diri pribadi. Semoga nanti, tiadalah terbersit tindakan somse, kecuali demi mereka tak cemburu lagi atau kembalilah saling menginsyafi. Ada-ada saja pertanyaan seolah ingin tahu perputaran uang di saku, semisal “Selama ini tidak pernah menghasilkan uang dari website?” Batin ini agaknya berontak, “Jangan hubungkan sastra dengan uang di hadapan saya!” Selanjutnya, sambil dengar musik Mehter Ottoman, diperturutkan ini lelangkah... Bismillah... (Sepertinya agak sungkan, tapi biarkanlah dituntaskan guna pada ‘mingkem’, dan tiada pertanyaan semacam itu lagi).
Friday, August 13, 2021
Jejak Kata, Penyair, dan Seniman untuk LK Ara
Jejak Kata, L.K. Ara
Ferdian Ananda Majni
Media Indonesia, 6 Jan 2018
LESIK Keti Ara atau LK Ara lahir di AcehTengah, 12 November 1937. Seniman dan penyair lintas generasi asal tanah Gayo ini telah menunjukkan konsistensi dan kesetiaannya pada dunia sastra nasional. Memasuki usianya yang ke 80 tahun, sejumlah penyair dan seniman dari seluruh Indonesia mengapresiasinya dengan catatan karya berupa puisi yang dibukukan. Lahirlah buku yang bertajuk Antologi Sastra 80 Tahun Lk Ara Jejak Kata. Puluhan seniman dan penyair ambil bagian menulis puisi, prosa, esai, dan testimoni tentang rekam jejak LK Ara.
Ferdian Ananda Majni
Media Indonesia, 6 Jan 2018
LESIK Keti Ara atau LK Ara lahir di AcehTengah, 12 November 1937. Seniman dan penyair lintas generasi asal tanah Gayo ini telah menunjukkan konsistensi dan kesetiaannya pada dunia sastra nasional. Memasuki usianya yang ke 80 tahun, sejumlah penyair dan seniman dari seluruh Indonesia mengapresiasinya dengan catatan karya berupa puisi yang dibukukan. Lahirlah buku yang bertajuk Antologi Sastra 80 Tahun Lk Ara Jejak Kata. Puluhan seniman dan penyair ambil bagian menulis puisi, prosa, esai, dan testimoni tentang rekam jejak LK Ara.
Tuesday, August 10, 2021
KEHIDUPAN MENJADI SEMPURNA DENGAN SASTRA
Pengukuhan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Batola
HE. Benyamine
Media Kalimantan, 28 Des 2011
Sastra mampu menggambarkan peristiwa dengan sempurna, menjadi sempurna, dan menyentuh diri secara sempurna. Melalui sastra, kehidupan ini lebih dapat dinikmati dengan menghadirkan pemaknaan yang mengarah pada penemuan hikmah pada setiap peristiwanya. Berbicara tentang sastra, begitulah bupati Kabupaten Barito Kuala, H. Hasanuddin Murad, SH., pada acara pengukuhan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Barito Kuala dan Pagelaran Sastra (26 Desember 2011: 20.00) di Panggung Terbuka yang menghadap sungai Barito.
HE. Benyamine
Media Kalimantan, 28 Des 2011
Sastra mampu menggambarkan peristiwa dengan sempurna, menjadi sempurna, dan menyentuh diri secara sempurna. Melalui sastra, kehidupan ini lebih dapat dinikmati dengan menghadirkan pemaknaan yang mengarah pada penemuan hikmah pada setiap peristiwanya. Berbicara tentang sastra, begitulah bupati Kabupaten Barito Kuala, H. Hasanuddin Murad, SH., pada acara pengukuhan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Barito Kuala dan Pagelaran Sastra (26 Desember 2011: 20.00) di Panggung Terbuka yang menghadap sungai Barito.
Sunday, August 8, 2021
Sastra Indonesia Tersendat Masalah Bahasa
Tenni Purwanti, Tri Wahono
oase.kompas.com
Banyak penulis Indonesia yang terkenal di negara sendiri, sudah bangga dengan karyanya. Padahal, ketika dibawa ke negara lain, belum tentu dikenal oleh pecinta sastra di negara tersebut. Banyak penulis Indonesia yang bersombong-sombong padahal jago kandang.
oase.kompas.com
Banyak penulis Indonesia yang terkenal di negara sendiri, sudah bangga dengan karyanya. Padahal, ketika dibawa ke negara lain, belum tentu dikenal oleh pecinta sastra di negara tersebut. Banyak penulis Indonesia yang bersombong-sombong padahal jago kandang.
Mungkinkah Sastra dan Bahasa Sunda Bangkit?
Linda Sarmili
suarakarya-online.com
Dalam rangka mengaktualisasikan kembali sastra dan bahasa Sunda – yang selama ini dinilai terancam punah – digelarlah baru-baru ini Kongres Bahasa dan Sastra Sunda di Cibulan, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kongres tersebut menghadirkan sejumlah pemerhati sastra dan bahasa Sunda dari seluruh daerah Jawa Barat, Banten, dan Jakarta, juga hadir komunitas masyarakat pecinta sastra dan bahasa Sunda dari berbagai daerah. Hadir dalam kesempatan itu pengurus lembaga sastra dan bahasa Sunda, juga budayawan sekaligus praktisi bahasa Sunda Ayip Rosidi.
suarakarya-online.com
Dalam rangka mengaktualisasikan kembali sastra dan bahasa Sunda – yang selama ini dinilai terancam punah – digelarlah baru-baru ini Kongres Bahasa dan Sastra Sunda di Cibulan, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kongres tersebut menghadirkan sejumlah pemerhati sastra dan bahasa Sunda dari seluruh daerah Jawa Barat, Banten, dan Jakarta, juga hadir komunitas masyarakat pecinta sastra dan bahasa Sunda dari berbagai daerah. Hadir dalam kesempatan itu pengurus lembaga sastra dan bahasa Sunda, juga budayawan sekaligus praktisi bahasa Sunda Ayip Rosidi.
Bahasa Tegal dan Tradisi Tulis
Suriali Andi Kustomo
suaramerdeka.com
TIGA belas tahun yang lalu, saya memberi kata pengantar buku Roa, sebuah buku karya sastra terjemahan. Namun bukan buku terjemahan sastra asing ke bahasa Indonesia atau sebaliknya – dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, Perancis, Jepang, atau bahasa lain sebagaimana karya Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad, dan sastrawan Indonesia lainnya.
suaramerdeka.com
TIGA belas tahun yang lalu, saya memberi kata pengantar buku Roa, sebuah buku karya sastra terjemahan. Namun bukan buku terjemahan sastra asing ke bahasa Indonesia atau sebaliknya – dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, Perancis, Jepang, atau bahasa lain sebagaimana karya Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad, dan sastrawan Indonesia lainnya.
Wednesday, August 4, 2021
SEPASANG LILIN DI RUMAH MALAIKAT
Maman S. Mahayana *
Dibandingkan teman-teman dari Pekanbaru, Tanjungpinang, Batam, dan Padang; juga teman-teman dari Malaysia dan Brunei Darussalam, saya terlambat mengenalnya: novelis Singapura yang prolifik dan humanis. Namanya Rohani Din. Sekitar 20-an novel sudah dihasilkannya. Novel-novelnya tebal. Satu di antaranya, berjudul Diari Bonda (Kuala Lumpur: Creative Enterprise Sdn. Bhd., 2004, 738 halaman) yang dalam setahun penerbitannya telah mengalami cetak ulang.
Dibandingkan teman-teman dari Pekanbaru, Tanjungpinang, Batam, dan Padang; juga teman-teman dari Malaysia dan Brunei Darussalam, saya terlambat mengenalnya: novelis Singapura yang prolifik dan humanis. Namanya Rohani Din. Sekitar 20-an novel sudah dihasilkannya. Novel-novelnya tebal. Satu di antaranya, berjudul Diari Bonda (Kuala Lumpur: Creative Enterprise Sdn. Bhd., 2004, 738 halaman) yang dalam setahun penerbitannya telah mengalami cetak ulang.
Tuesday, August 3, 2021
Bijak Memilih Sekolah
Abdul Hopid *
seputar-indonesia.com
HATI-HATI memilih sekolah! Pilihlah sekolah unggulan, yaitu sekolah yang memperhatikan aspek-aspek perkembangan dan kebutuhan manusia, bukan sekolah yang hanya melatih bagaimana siswanya mampu menjawab soal ujian nasional (UN), apalagi mengajarkan menyontek.
Jika Anda membaca buku karya Thomas Armstrong, The Best School; How Development Research Should Inform Educational Practice, Anda pasti menemukan dua wacana besar model sekolah. Pertama, sekolah Wacana Prestasi Akademik. Kedua,Wacana Perkembangan Manusia.
seputar-indonesia.com
HATI-HATI memilih sekolah! Pilihlah sekolah unggulan, yaitu sekolah yang memperhatikan aspek-aspek perkembangan dan kebutuhan manusia, bukan sekolah yang hanya melatih bagaimana siswanya mampu menjawab soal ujian nasional (UN), apalagi mengajarkan menyontek.
Jika Anda membaca buku karya Thomas Armstrong, The Best School; How Development Research Should Inform Educational Practice, Anda pasti menemukan dua wacana besar model sekolah. Pertama, sekolah Wacana Prestasi Akademik. Kedua,Wacana Perkembangan Manusia.
Udo Z. Karzi; Pembuka Ruang Gelap!
N Teguh Prasetyo
lampungpost.com
Terbukanya sebuah ruang yang selama ini gelap dan tertutup tak terjamah merupakan satu pesan yang amat sangat terasa saat dilakukannya peluncuran buku Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi yang dibarengi diskusi tentang bahasa Lampung yang digelar Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Senin (3-3) yang lalu.
lampungpost.com
Terbukanya sebuah ruang yang selama ini gelap dan tertutup tak terjamah merupakan satu pesan yang amat sangat terasa saat dilakukannya peluncuran buku Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi yang dibarengi diskusi tentang bahasa Lampung yang digelar Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Senin (3-3) yang lalu.
Menggagas Estetika di Ruang Diskusi
Rahmat Sudirman
lampungpost.com
Sastra Indonesia tak bisa lepas dari “mitos” kebaruan. Namun, eksplorasi karya yang muncul pasca-1998, seiring tumbangnya Orde Baru, belum memperlihatkan mainstream yang kuat.
HARRIS Effendi Thahar dengan jelas melontarkan simpulan tersebut dalam diskusi Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 1. Namun, lontaran sastrawan Sumatera Barat itu lepas begitu saja. Puluhan sastrawan yang mengikuti diskusi membahas capaian estetik puisi di Grand Hotel, Jambi,
lampungpost.com
Sastra Indonesia tak bisa lepas dari “mitos” kebaruan. Namun, eksplorasi karya yang muncul pasca-1998, seiring tumbangnya Orde Baru, belum memperlihatkan mainstream yang kuat.
HARRIS Effendi Thahar dengan jelas melontarkan simpulan tersebut dalam diskusi Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 1. Namun, lontaran sastrawan Sumatera Barat itu lepas begitu saja. Puluhan sastrawan yang mengikuti diskusi membahas capaian estetik puisi di Grand Hotel, Jambi,
Ketika DKJ Menjejali Ruang Publik Jakarta dengan Sastra
Yurnaldi
kompas.co.id
Hanya satu hal yang bisa menggugah hari nurani warga. Bukan jejalan iklan calon-calon wakil rakyat Pemilu 2009 yang mengobral janji, dengan beragam bentuk media dan ukuran. Bukan pula tebaran papan reklame yang menyesaki kota, yang membuat warga semakin tergoda belanja. Satu hal itu adalah karya sastra.
Lihatlah, misalnya, ketika Nova, membawakan dua puisi masing-masing karya Arifin C Noer dan Sitok Srengenge, dengan nyayian rapp, Sabtu (10/1) di Taman Menteng, Jakarta, pada peluncuran Sastra di Ruang Kota oleh Dewan Kesenian Jakarta, warga betapa tergugahnya. Ratusan warga bagai menikmati aura kedamaian di hati. Begitu indah dinikmati. Berbagi rasa dengan penuh pesona sastra.
kompas.co.id
Hanya satu hal yang bisa menggugah hari nurani warga. Bukan jejalan iklan calon-calon wakil rakyat Pemilu 2009 yang mengobral janji, dengan beragam bentuk media dan ukuran. Bukan pula tebaran papan reklame yang menyesaki kota, yang membuat warga semakin tergoda belanja. Satu hal itu adalah karya sastra.
Lihatlah, misalnya, ketika Nova, membawakan dua puisi masing-masing karya Arifin C Noer dan Sitok Srengenge, dengan nyayian rapp, Sabtu (10/1) di Taman Menteng, Jakarta, pada peluncuran Sastra di Ruang Kota oleh Dewan Kesenian Jakarta, warga betapa tergugahnya. Ratusan warga bagai menikmati aura kedamaian di hati. Begitu indah dinikmati. Berbagi rasa dengan penuh pesona sastra.
Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi
Budi P. Hatees *
lampungpost.com
KETIKA membaca buku Kumpulan Puisi Ruang Lengang yang ditulis Epri Tsaqib, ingatan kita segera tertumbuk pada sastra islami yang diusung para penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) dalam karya-karya mereka. Epri Tsaqib bergiat dalam wadah ini, tetapi ia memilih jalan puisi sebagai alat ekspresi seni, berbeda dengan pilihan sebagian besar penggiat FLP yang condong mengutamakan prosa.
lampungpost.com
KETIKA membaca buku Kumpulan Puisi Ruang Lengang yang ditulis Epri Tsaqib, ingatan kita segera tertumbuk pada sastra islami yang diusung para penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) dalam karya-karya mereka. Epri Tsaqib bergiat dalam wadah ini, tetapi ia memilih jalan puisi sebagai alat ekspresi seni, berbeda dengan pilihan sebagian besar penggiat FLP yang condong mengutamakan prosa.
Friday, July 30, 2021
MEMETIK METAFOR MENULIS EKA BUDIANTA
Sutejo
Ponorogo Pos
Sungguh saya terbelalak dengan metafor menulis yang diungkapkan Eka Budianta! Tulisan itu seperti bom, cinta. Sebuah sisi lain pengalaman menulis yang menggetarkan. Bagaimana tidak? Bom dan cinta seperti dua hal yang jauh tetapi didekatkan dalam satu makna. Bom simbol teror yang membuat orang ngeri. Tetapi bom dalam konteks pandangan Eka Budianto tentu menyaran pada bagaimana tulisan mampu melemparkan teror mental. Jargon ini sebangun dengan apa yang diungkapkan Putu Wijaya.
Ponorogo Pos
Sungguh saya terbelalak dengan metafor menulis yang diungkapkan Eka Budianta! Tulisan itu seperti bom, cinta. Sebuah sisi lain pengalaman menulis yang menggetarkan. Bagaimana tidak? Bom dan cinta seperti dua hal yang jauh tetapi didekatkan dalam satu makna. Bom simbol teror yang membuat orang ngeri. Tetapi bom dalam konteks pandangan Eka Budianto tentu menyaran pada bagaimana tulisan mampu melemparkan teror mental. Jargon ini sebangun dengan apa yang diungkapkan Putu Wijaya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
A. Anzieb
A. Muttaqin
A. Qorib Hidayatullah
A. Rifqi Hidayat
A. Rodhi Murtadho
A. Syauqi Sumbawi
A.J. Susmana
A.S. Laksana
A'yat Khalili
Abdul Hadi WM
Abdul Hopid
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Acep Zamzam Noor
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agus B. Harianto
Agus Dermawan T.
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agusri Junaidi
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Ali Audah
Alim Bakhtiar
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Hamzah
Ana Mustamin
Andhika Mappasomba
Andi Achdian
Andrenaline Katarsis
Anjrah Lelono Broto
Anton Wahyudi
Anwar Holid
Aprinus Salam
Arafat Nur
Ardy Kresna Crenata
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Wibowo
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Aryadi Mellas
Aryo Bhawono
Asap Studio
Asarpin
Asep Rahmat Hidayat
Asep Sambodja
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
B Kunto Wibisono
Badaruddin Amir
Balada
Bambang Kempling
Bambang Soebendo
Banjir Bandang
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Binhad Nurrohmat
Boy Mihaballo
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairil Gibran Ramadhan
D. Zawawi Imron
D.N. Aidit
Daisy Priyanti
Dandy Bayu Bramasta
Daniel Dhakidae
Dareen Tatour
Dea Anugrah
Dedy Sufriadi
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Deni Jazuli
Denny JA
Denny Mizhar
Desti Fatin Fauziyyah
Dewi Sartika
Dhanu Priyo Prabowo
Dharmadi
Diah Budiana
Dian Hartati
Didin Tulus
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Donny Anggoro
Dwi Pranoto
Echa Panrita Lopi
Eddi Koben
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Faizin
Emha Ainun Nadjib
Enda Menzies
Erlina P. Lestari
Erwin Dariyanto
Esai
Esti Ambirati
Evi Idawati
Evi Sefiani
F. Daus AR
F. Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fandy Hutari
Farah Noersativa
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Faza Bina Al-Alim
Felix K. Nesi
Ferdian Ananda Majni
Fian Firatmaja
Gampang Prawoto
Gema Erika Nugroho
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Gombloh
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Gus Noy
H.B. Jassin
Hairus Salim
Hamka
Hamsad Rangkuti
Hari Murti
Haris Firdaus
Harry Aveling
Hasan Aspahani
Hasif Amini
HE. Benyamine
Hendri Yetus Siswono
Herman Syahara
Hermien Y. Kleden
Holy Adib
Huda S Noor
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Humam S Chudori
Husni Hamisi
I G.G. Maha Adi
Iberamsyah Barbary
Ida Fitri
Idealisa Masyrafina
Idrus
Ignas Kleden
Ikarisma Kusmalina
Ike Ayuwandari
Ilham
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indria Pamuhapsari
Indrian Koto
Irfan Sholeh Fauzi
Isbedy Stiawan Z.S.
J.J. Kusni
Jadid Al Farisy
Jajang R Kawentar
Jakob Oetama
Jalaluddin Rakhmat
Jansen H. Sinamo
Joni Ariadinata
K.H. Bisri Syansuri
K.H. M. Najib Muhammad
Kahfi Ananda Giatama
Kahfie Nazaruddin
Kho Ping Hoo
Kika Dhersy Putri
Kitab Para Malaikat
Kritik Sastra
Kucing Oren
Kunni Masrohanti
Kuswinarto
L.K. Ara
Lagu
Laksmi Shitaresmi
Lan Fang
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Leon Agusta
Lesbumi Yogyakarta
Lily Yulianti Farid
Linda Christanty
Linda Sarmili
Lukisan
Lutfi Mardiansyah
Luwu Utara
M. Aan Mansyur
M. Faizi
M. Raudah Jambak
M. Shoim Anwar
M.D. Atmaja
M’Shoe
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Majene
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mamasa
Mamuju
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maroeli Simbolon
Martin Aleida
Masamba
Mashuri
Media KAMA_PO
Melani Budianta
Mihar Harahap
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Moh. Jauhar al-Hakimi
Mohammad Afifi
Mohammad Yamin
Much. Khoiri
Muhammad Fauzi
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Ridwan
Muhammad Subarkah
Muhammad Walidin
Muhammad Yasir
Muhyiddin
Mukhsin Amar
Munawir Aziz
Musa Ismail
Mustamin Almandary
N Teguh Prasetyo
Nadine Gordimer
Nara Ahirullah
Nelson Alwi
Nikita Mirzani
Nirwan Ahmad Arsuka
Nizar Qabbani
Nugroho Sukmanto
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Asyhadie
Nurul Komariyah
Ocehan
Onghokham
Otto Sukatno CR
Pamela Allen
Pameran
Parakitri T. Simbolon
Pelukis
Pendidikan
Penggalangan Dana
Peta Provinsi Sulawesi Barat
Polewali
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Salafiyah Karossa
Pramoedya Ananta Toer
Pramuka
Prasetyo Agung
Pringadi AS
Pringgo HR
Priska
Prosa
Pudyo Saptono
Puisi
Puput Amiranti N
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R Sutandya Yudha Khaidar
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Ragdi F. Daye
Rahmadi Usman
Rahmat Sudirman
Rahmat Sutandya Yudhanto
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Prabu
Ratnani Latifah
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Riadi Ngasiran
Rian Harahap
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Riki Fernando
Rofiqi Hasan
Ronny Agustinus
Rozi Kembara
Rusydi Zamzami
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Safar Nurhan
Saini K.M.
Sajak
Salman Rusydie Anwar
Salman S Yoga
Samsul Anam
Sapardi Djoko Damono
Sapto Hoedojo
Sasti Gotama
Sastra
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Seni Rupa
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sirajudin
Siswoyo
Sitok Srengenge
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sonia
Sosiawan Leak
Sukitman
Sulawesi Selatan
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suriali Andi Kustomo
Suryanto Sastroatmodjo
Susi Ivvaty
Susianna
Sutan Takdir Alisjahbana
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syaifuddin Gani
Syamsudin Noer Moenadi
Syihabuddin Qalyubi
Syu’bah Asa
Tari Bamba Manurung
Tari Bulu Londong
Tari Ma’Bundu
Tari Mappande Banua
Tari Patuddu
Tari Salabose Daeng Poralle
Tari Sayyang Pattuqduq
Tari Toerang Batu
Tata Chacha
Tatan Daniel
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teater
Teddi Muhtadin
Teguh Setiawan Pinang
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tito Sianipar
Tjahjono Widijanto
Toeti Heraty
Tosiani
Tri Wahono
Udin Badruddin
Udo Z. Karzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Usman Arrumy
UU Hamidy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wan Anwar
Wawancara
Wayan Sunarta
Welly Kuswanto
Wicaksono
Wicaksono Adi
Wilson Nadeak
Wisata
Yohanes Sehandi
Yonatan Raharjo
Yopie Setia Umbara
Yosephine Maryati
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yurnaldi
Zamakhsyari Abrar

