Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

Monday, August 30, 2021

Budi Darma dan Tiga Anak Jembel: Sebuah Obituari

Eka Kurniawan *
Jawa Pos, 22 Agu 2021
 
Budi Darma merupakan satu di antara sedikit penulis langka. Ketika kita sering mendengar banyak keluhan tentang kenapa segala ihwal Indonesia ditulis para penulis asing, dalam hal ini ”Barat”, bahwa Indonesia (atau bahkan Asia) harus menulis dirinya sendiri, Budi Darma melompat lebih jauh.

Monday, August 23, 2021

Perempuan Berbibir Basah

Mengenang Budi Darma lewat Bibir yang Selalu Basah itu, Prosa Taufiq Wr. Hidayat
 
Fatah Yasin Noor
 
Budi Darma menulis demi menulis itu sendiri. Kalimat-kalimat yang ia tulis selalu enak dibaca dan selalu menyenangkan hati. Kalau ada kemuraman dalam kata-katanya, percayalah, itu bukan kemuraman demi kemuraman itu sendiri. Budi Darma ditakdirkan menjadi sastrawan terkemuka di Indonesia karena ia suka menulis demi menulis itu sendiri. Kemuraman yang terekam dalam sekian banyak tulisannya adalah kejujuran. Budi mencoba meneropong dirinya sendiri. Kadang hasil teropongannya ngelantur mengerikan. Budi Darma selalu gelisah, dan yakin dibalik masyarakat lingkungannya yang seolah berjalan normal tak lain dan tak bukan adalah abnormal.

Komentar Dwi Pranoto mengenai Dari Rak Terdepan Sastra Indonesia oleh tengara.id

Thursday, August 19, 2021

Cara Felix K. Nesi Melahirkan Orang-Orang Oetimu

Dikirim dari E-Mail Yahoo ke Google
 
Indria Pamuhapsari *
Jawa Pos, 31 Okt 2019
 
Orang-Orang Oetimu lahir lewat kertas folio, lalu dipindah ke laptop pinjaman, dicetak, diedit ulang, kemudian diketik lagi. Karena tak ada uang, tumpukan dokumen awal novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta itu sudah habis dikilokan.
***
 
SEMBARI duduk, Felix K. Nesi langsung mengangkat tangan kanan. Hampir setinggi dagu.

PUISI-PUISI YANG BERSELIMUT TEBAL

Ragdi F. Daye
harianhaluan.com, 27 Maret 2011
 
Sebagai karya sastra, puisi mengekspresikan pengalaman hidup manusia dan pemahaman­nya tentang kehidupan melalui bahasa yang estetis. Berbeda dengan prosa yang mempunyai peluang menyampaikan maksud dengan kapasitas ruang ekspresi yang cukup luas, puisi memadat­kan gagasan dalam tubuh yang ramping. Konsekuensinya, puisi perlu menyaring dan memilah kata-kata secara lebih ekstrem untuk menghantarkan maksud pengarangnya. Bahasa dalam puisi merupakan kristalisasi atas bahasa yang biasa digunakan dalam keseharian. Inilah yang menim­bulkan aspek estetika di dalam tubuh unik puisi.

Catatan Singkat: Merdeka itu Berjalan di atas Cita-cita!

Nurel Javissyarqi *
 
Sudah lama tak menulis lewat status facebook. Untuk memulainya kembali, yang ringan-ringan dulu. Kali ini, ditujukan pada orang-orang yang mencemburi saya atas kengangguran diri pribadi. Semoga nanti, tiadalah terbersit tindakan somse, kecuali demi mereka tak cemburu lagi atau kembalilah saling menginsyafi. Ada-ada saja pertanyaan seolah ingin tahu perputaran uang di saku, semisal “Selama ini tidak pernah menghasilkan uang dari website?” Batin ini agaknya berontak, “Jangan hubungkan sastra dengan uang di hadapan saya!” Selanjutnya, sambil dengar musik Mehter Ottoman, diperturutkan ini lelangkah... Bismillah... (Sepertinya agak sungkan, tapi biarkanlah dituntaskan guna pada ‘mingkem’, dan tiada pertanyaan semacam itu lagi).

Friday, August 13, 2021

Jejak Kata, Penyair, dan Seniman untuk LK Ara

Jejak Kata, L.K. Ara
 
Ferdian Ananda Majni
Media Indonesia, 6 Jan 2018
 
LESIK Keti Ara atau LK Ara lahir di AcehTengah, 12 November 1937. Seniman dan penyair lintas generasi asal tanah Gayo ini telah menunjukkan konsistensi dan kesetiaannya pada dunia sastra nasional. Memasuki usianya yang ke 80 tahun, sejumlah penyair dan seniman dari seluruh Indonesia mengapresiasinya dengan catatan karya berupa puisi yang dibukukan. Lahirlah buku yang bertajuk Antologi Sastra 80 Tahun Lk Ara Jejak Kata. Puluhan seniman dan penyair ambil bagian menulis puisi, prosa, esai, dan testimoni tentang rekam jejak LK Ara.

Tuesday, August 10, 2021

KEHIDUPAN MENJADI SEMPURNA DENGAN SASTRA

Pengukuhan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Batola
 
HE. Benyamine
Media Kalimantan, 28 Des 2011
 
Sastra mampu menggambarkan peristiwa dengan sempurna, menjadi sempurna, dan menyentuh diri secara sempurna. Melalui sastra, kehidupan ini lebih dapat dinikmati dengan menghadirkan pemaknaan yang mengarah pada penemuan hikmah pada setiap peristiwanya. Berbicara tentang sastra, begitulah bupati Kabupaten Barito Kuala, H. Hasanuddin Murad, SH., pada acara pengukuhan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Barito Kuala dan Pagelaran Sastra (26 Desember 2011: 20.00) di Panggung Terbuka yang menghadap sungai Barito.

Sunday, August 8, 2021

Sastra Indonesia Tersendat Masalah Bahasa

Tenni Purwanti, Tri Wahono
oase.kompas.com
 
Banyak penulis Indonesia yang terkenal di negara sendiri, sudah bangga dengan karyanya. Padahal, ketika dibawa ke negara lain, belum tentu dikenal oleh pecinta sastra di negara tersebut. Banyak penulis Indonesia yang bersombong-sombong padahal jago kandang.

Mungkinkah Sastra dan Bahasa Sunda Bangkit?

Linda Sarmili
suarakarya-online.com
 
Dalam rangka mengaktualisasikan kembali sastra dan bahasa Sunda – yang selama ini dinilai terancam punah – digelarlah baru-baru ini Kongres Bahasa dan Sastra Sunda di Cibulan, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kongres tersebut menghadirkan sejumlah pemerhati sastra dan bahasa Sunda dari seluruh daerah Jawa Barat, Banten, dan Jakarta, juga hadir komunitas masyarakat pecinta sastra dan bahasa Sunda dari berbagai daerah. Hadir dalam kesempatan itu pengurus lembaga sastra dan bahasa Sunda, juga budayawan sekaligus praktisi bahasa Sunda Ayip Rosidi.

Bahasa Tegal dan Tradisi Tulis

Suriali Andi Kustomo
suaramerdeka.com
 
TIGA belas tahun yang lalu, saya memberi kata pengantar buku Roa, sebuah buku karya sastra terjemahan. Namun bukan buku terjemahan sastra asing ke bahasa Indonesia atau sebaliknya – dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, Perancis, Jepang, atau bahasa lain sebagaimana karya Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad, dan sastrawan Indonesia lainnya.

Wednesday, August 4, 2021

SEPASANG LILIN DI RUMAH MALAIKAT

Maman S. Mahayana *
 
Dibandingkan teman-teman dari Pekanbaru, Tanjungpinang, Batam, dan Padang; juga teman-teman dari Malaysia dan Brunei Darussalam, saya terlambat mengenalnya: novelis Singapura yang prolifik dan humanis. Namanya Rohani Din. Sekitar 20-an novel sudah dihasilkannya. Novel-novelnya tebal. Satu di antaranya, berjudul Diari Bonda (Kuala Lumpur: Creative Enterprise Sdn. Bhd., 2004, 738 halaman) yang dalam setahun penerbitannya telah mengalami cetak ulang.

Tuesday, August 3, 2021

Bijak Memilih Sekolah

Abdul Hopid *
seputar-indonesia.com
 
HATI-HATI memilih sekolah! Pilihlah sekolah unggulan, yaitu sekolah yang memperhatikan aspek-aspek perkembangan dan kebutuhan manusia, bukan sekolah yang hanya melatih bagaimana siswanya mampu menjawab soal ujian nasional (UN), apalagi mengajarkan menyontek.
 
Jika Anda membaca buku karya Thomas Armstrong, The Best School; How Development Research Should Inform Educational Practice, Anda pasti menemukan dua wacana besar model sekolah. Pertama, sekolah Wacana Prestasi Akademik. Kedua,Wacana Perkembangan Manusia.

Udo Z. Karzi; Pembuka Ruang Gelap!

N Teguh Prasetyo
lampungpost.com
 
Terbukanya sebuah ruang yang selama ini gelap dan tertutup tak terjamah merupakan satu pesan yang amat sangat terasa saat dilakukannya peluncuran buku Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi yang dibarengi diskusi tentang bahasa Lampung yang digelar Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Senin (3-3) yang lalu.

Menggagas Estetika di Ruang Diskusi

Rahmat Sudirman
lampungpost.com
 
Sastra Indonesia tak bisa lepas dari “mitos” kebaruan. Namun, eksplorasi karya yang muncul pasca-1998, seiring tumbangnya Orde Baru, belum memperlihatkan mainstream yang kuat.
 
HARRIS Effendi Thahar dengan jelas melontarkan simpulan tersebut dalam diskusi Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 1. Namun, lontaran sastrawan Sumatera Barat itu lepas begitu saja. Puluhan sastrawan yang mengikuti diskusi membahas capaian estetik puisi di Grand Hotel, Jambi,

Ketika DKJ Menjejali Ruang Publik Jakarta dengan Sastra

Yurnaldi
kompas.co.id
 
Hanya satu hal yang bisa menggugah hari nurani warga. Bukan jejalan iklan calon-calon wakil rakyat Pemilu 2009 yang mengobral janji, dengan beragam bentuk media dan ukuran. Bukan pula tebaran papan reklame yang menyesaki kota, yang membuat warga semakin tergoda belanja. Satu hal itu adalah karya sastra.
 
Lihatlah, misalnya, ketika Nova, membawakan dua puisi masing-masing karya Arifin C Noer dan Sitok Srengenge, dengan nyayian rapp, Sabtu (10/1) di Taman Menteng, Jakarta, pada peluncuran Sastra di Ruang Kota oleh Dewan Kesenian Jakarta, warga betapa tergugahnya. Ratusan warga bagai menikmati aura kedamaian di hati. Begitu indah dinikmati. Berbagi rasa dengan penuh pesona sastra.

Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi

Budi P. Hatees *
lampungpost.com
 
KETIKA membaca buku Kumpulan Puisi Ruang Lengang yang ditulis Epri Tsaqib, ingatan kita segera tertumbuk pada sastra islami yang diusung para penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) dalam karya-karya mereka. Epri Tsaqib bergiat dalam wadah ini, tetapi ia memilih jalan puisi sebagai alat ekspresi seni, berbeda dengan pilihan sebagian besar penggiat FLP yang condong mengutamakan prosa.

Friday, July 30, 2021

MEMETIK METAFOR MENULIS EKA BUDIANTA

Sutejo
Ponorogo Pos
 
Sungguh saya terbelalak dengan metafor menulis yang diungkapkan Eka Budianta! Tulisan itu seperti bom, cinta. Sebuah sisi lain pengalaman menulis yang menggetarkan. Bagaimana tidak? Bom dan cinta seperti dua hal yang jauh tetapi didekatkan dalam satu makna. Bom simbol teror yang membuat orang ngeri. Tetapi bom dalam konteks pandangan Eka Budianto tentu menyaran pada bagaimana tulisan mampu melemparkan teror mental. Jargon ini sebangun dengan apa yang diungkapkan Putu Wijaya.
A. Anzieb A. Muttaqin A. Qorib Hidayatullah A. Rifqi Hidayat A. Rodhi Murtadho A. Syauqi Sumbawi A.J. Susmana A.S. Laksana A'yat Khalili Abdul Hadi WM Abdul Hopid Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Acep Zamzam Noor Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus Dermawan T. Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sunyoto Agus Wibowo Agusri Junaidi Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Muchlish Amrin Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akhudiat Ali Audah Alim Bakhtiar Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Ana Mustamin Andhika Mappasomba Andi Achdian Andrenaline Katarsis Anjrah Lelono Broto Anton Wahyudi Anwar Holid Aprinus Salam Arafat Nur Ardy Kresna Crenata Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Wibowo Arman A.Z. Arsyad Indradi Aryadi Mellas Aryo Bhawono Asap Studio Asarpin Asep Rahmat Hidayat Asep Sambodja Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif B Kunto Wibisono Badaruddin Amir Balada Bambang Kempling Bambang Soebendo Banjir Bandang Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Binhad Nurrohmat Boy Mihaballo Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerbung Cerpen Chairil Gibran Ramadhan D. Zawawi Imron D.N. Aidit Daisy Priyanti Dandy Bayu Bramasta Daniel Dhakidae Dareen Tatour Dea Anugrah Dedy Sufriadi Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desti Fatin Fauziyyah Dewi Sartika Dhanu Priyo Prabowo Dharmadi Diah Budiana Dian Hartati Didin Tulus Djoko Pitono Djoko Saryono Donny Anggoro Dwi Pranoto Echa Panrita Lopi Eddi Koben Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Faizin Emha Ainun Nadjib Enda Menzies Erlina P. Lestari Erwin Dariyanto Esai Esti Ambirati Evi Idawati Evi Sefiani F. Daus AR F. Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fandy Hutari Farah Noersativa Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Faza Bina Al-Alim Felix K. Nesi Ferdian Ananda Majni Fian Firatmaja Gampang Prawoto Gema Erika Nugroho Goenawan Mohamad Gola Gong Gombloh Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Gus Noy H.B. Jassin Hairus Salim Hamka Hamsad Rangkuti Hari Murti Haris Firdaus Harry Aveling Hasan Aspahani Hasif Amini HE. Benyamine Hendri Yetus Siswono Herman Syahara Hermien Y. Kleden Holy Adib Huda S Noor Hudan Hidayat Hudan Nur Humam S Chudori Husni Hamisi I G.G. Maha Adi Iberamsyah Barbary Ida Fitri Idealisa Masyrafina Idrus Ignas Kleden Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilham Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indria Pamuhapsari Indrian Koto Irfan Sholeh Fauzi Isbedy Stiawan Z.S. J.J. Kusni Jadid Al Farisy Jajang R Kawentar Jakob Oetama Jalaluddin Rakhmat Jansen H. Sinamo Joni Ariadinata K.H. Bisri Syansuri K.H. M. Najib Muhammad Kahfi Ananda Giatama Kahfie Nazaruddin Kho Ping Hoo Kika Dhersy Putri Kitab Para Malaikat Kritik Sastra Kucing Oren Kunni Masrohanti Kuswinarto L.K. Ara Lagu Laksmi Shitaresmi Lan Fang Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Tolstoy Leon Agusta Lesbumi Yogyakarta Lily Yulianti Farid Linda Christanty Linda Sarmili Lukisan Lutfi Mardiansyah Luwu Utara M. Aan Mansyur M. Faizi M. Raudah Jambak M. Shoim Anwar M.D. Atmaja M’Shoe Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Majene Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mamasa Mamuju Mardi Luhung Marhalim Zaini Maroeli Simbolon Martin Aleida Masamba Mashuri Media KAMA_PO Melani Budianta Mihar Harahap Misbahus Surur Mochtar Lubis Moh. Jauhar al-Hakimi Mohammad Afifi Mohammad Yamin Much. Khoiri Muhammad Fauzi Muhammad Muhibbuddin Muhammad Ridwan Muhammad Subarkah Muhammad Walidin Muhammad Yasir Muhyiddin Mukhsin Amar Munawir Aziz Musa Ismail Mustamin Almandary N Teguh Prasetyo Nadine Gordimer Nara Ahirullah Nelson Alwi Nikita Mirzani Nirwan Ahmad Arsuka Nizar Qabbani Nugroho Sukmanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Asyhadie Nurul Komariyah Ocehan Onghokham Otto Sukatno CR Pamela Allen Pameran Parakitri T. Simbolon Pelukis Pendidikan Penggalangan Dana Peta Provinsi Sulawesi Barat Polewali Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Salafiyah Karossa Pramoedya Ananta Toer Pramuka Prasetyo Agung Pringadi AS Pringgo HR Priska Prosa Pudyo Saptono Puisi Puput Amiranti N Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R Sutandya Yudha Khaidar R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Raedu Basha Ragdi F. Daye Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sutandya Yudhanto Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Prabu Ratnani Latifah Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Riadi Ngasiran Rian Harahap Ribut Wijoto Rida K Liamsi Riki Fernando Rofiqi Hasan Ronny Agustinus Rozi Kembara Rusydi Zamzami Rx King Motor S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Safar Nurhan Saini K.M. Sajak Salman Rusydie Anwar Salman S Yoga Samsul Anam Sapardi Djoko Damono Sapto Hoedojo Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Seni Rupa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sirajudin Siswoyo Sitok Srengenge Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sonia Sosiawan Leak Sukitman Sulawesi Selatan Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suriali Andi Kustomo Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syaifuddin Gani Syamsudin Noer Moenadi Syihabuddin Qalyubi Syu’bah Asa Tari Bamba Manurung Tari Bulu Londong Tari Ma’Bundu Tari Mappande Banua Tari Patuddu Tari Salabose Daeng Poralle Tari Sayyang Pattuqduq Tari Toerang Batu Tata Chacha Tatan Daniel Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teddi Muhtadin Teguh Setiawan Pinang Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tito Sianipar Tjahjono Widijanto Toeti Heraty Tosiani Tri Wahono Udin Badruddin Udo Z. Karzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Usman Arrumy UU Hamidy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wan Anwar Wawancara Wayan Sunarta Welly Kuswanto Wicaksono Wicaksono Adi Wilson Nadeak Wisata Yohanes Sehandi Yonatan Raharjo Yopie Setia Umbara Yosephine Maryati Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yurnaldi Zamakhsyari Abrar