Friday, July 30, 2021

Sepasang Mata untuk Perempuan

Salman Rusydie Anwar
Pikiran Rakyat, 30 Juni 2007
 
Untuk malam yang kesekian kalinya, Indrian kembali mengeluarkan alat-alat lukisnya dari sebuah kardus bekas yang sudah lapuk. Ditatapnya kanvas yang terpancang di hadapannya. Lukisan yang tak selesai selama dua malam. Dan malam itu, ia berniat menyelesaikan lukisannya. Sebuah sketsa wajah perempuan yang acak. Lalu dia mendengus pelan.
 
Harus selesai. Harus sempurna," ia berbisik kepada dirinya sendiri.
 
Di luar, malam semakin pekat. Di atas langit, rembulan berwarna putih perak. Kuncup daun cemara di kejauhan, bersepuh warna bulan. Sekali waktu sampai pula ke dalam telinganya suara-suara burung malam. Tidak, itu jelas burung hantu. Berkukuk-kukuk. Barangkali itulah suara-suara alam yang akan dinikmatinya malam itu sambil tangan kanannya menari pelan di atas kanvas.
 
Sebagai seorang pelukis, Indrian meyakini satu hal. Apa pun saja yang dilihat, didengar, dan dirasakan semuanya harus dinikmati sebagai sebuah inspirasi. Alam menyediakan segalanya untuk dibaca. Untuk dilukis.
 
"Ah. Ira. Kau tak ubahnya anak alam yang gesit untuk kutangkap dalam lukisanku."
 
Lelaki kurus berambut panjang, seperti ciri khas kebanyakan orang sepertinya, itu masih terus asyik memindahkan lesatan-lesatan otaknya ke atas kanvas yang terlihat berwarna kuning keemasan ditimpa lampu dingklik yang berkeredip-keredip ditiup angin.
 
Namun selalu saja tangannya terhenti ketika ia bermaksud melukis kedua bola mata perempuan yang dipanggilnya Ira itu. Ia seperti tak memiliki kekuatan untuk menerjemahkan sorot mata perempuan itu ke dalam lukisannya. Dan karena itu ia menjadi sedikit kesal.
 
Dirogohnya saku celana yang telah sobek beberapa bagiannya. Mencari rokok, dan kemudian menjumputnya sebatang. Menyulutnya ke lampu dingklik karena tak ada korek di dekatnya. Api di ujung rokoknya menyala merah setelah ia mengisapnya keras-keras. Kemudian menghembuskan asap-asapnya sekeras ia menghisapnya. Asap bergulung-gulung di hadapannya sebelum terberai oleh angin.
 
Ditatapnya kembali lukisan wajah perempuan yang tak memiliki mata itu. Semuanya sudah hampir sempurna. Tinggal kau menyelesaikan bentuk kedua bola matanya, Indrian. Kemudian kau memberinya ruh pada tatapannya agar lukisanmu memiliki kesan sebagai lukisan yang hidup.
 
Lama Indrian memandang lukisannya. Kedua kakinya ia selonjorkan untuk melenturkan kembali otot-ototnya. Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya yang tipis yang terbungkus oleh kaos dalam yang tak kalah tipis dengan dadanya. Sekali-sekali terlemparlah suara batuknya yang berat ke tengah-tengah malam. Sunyi yang menyergap membuat suara batuknya itu terlempar sampai jauh. Seperti memantul dari rerimbunan daun yang merunduk beku.
 
Sebatang rokoknya telah habis. Tak sepenuhnya dihisap. Melainkan dijumput sedikit-sedikit oleh angin yang lesau.
 
"Ira. Sebaiknya tak kulukis matamu di sini," guman Indrian sambil meraba-raba bagian wajah yang hendak diisi dengan lukisan mata perempuan itu. Barangkali ada pasir yang akan mengganggu dan mengotori wajah perempuannya itu. Namun ia tak menemukan sebutir pasir pun di sana.
 
"Ya. Matamu tak akan aku lukis di sini. Sebab pada matamulah letak keindahanmu. Aku khawatir, jika sampai aku melukisnya, akan banyak orang yang menginginkan matamu sebagaimana aku pertama kali jatuh cinta kepadamu lewat mata itu," Indrian kemudian tersenyum dan memasukkan kembali alat-alat lukisnya.
 
"Matamu hanya akan aku lukis di dalam ingatan dan mimpi-mimpiku."
 
Demikian katanya sambil bergegas masuk kamar untuk berangkat tidur. Untuk malam yang kesekian ia gagal lagi menyelesaikan lukisannya. Namun ia merasa tak akan menyesal. Karena ia sudah memiliki alasan. Setidaknya alasan untuk dirinya sendiri.
 
Di atas amben tua tempat ia membaringkan tubuhnya yang kurus, Indrian tertegun sejenak. Ingatannya kembali terusik oleh lukisan mata kekasihnya yang tak selesai. Sepasang mata milik kekasihnya, tentu. Di kedua bola mata perempuan ia seperti melihat kelembutan yang selama ini tak dirasakan.
 
Betapa jujur mata perempuan mengungkap segalanya. Mata yang menyimpan kasih sayang yang tak bisa ia ukur. Tak bisa ia lukis lewat cat-cat berwarna. Betapa lelaki itu merindukan perempuannya malam itu. Lebih tepatnya ia merindukan untuk bisa melihat kedua bola matanya. Sejurus kemudian Indrian tersenyum sendiri.
 
Mengenangkan saat-saat ketika ia duduk berhadapan di salah satu tempat di taman kota. Menyelami kedua bola mata Ira. Perempuan yang saat ini berada di negeri jauh. Bertaruh keberuntungan. Indrian bangkit dan duduk di tepi amben yang terdengar berderit-derit parau menahan beban.
 
"Jangan cemaskan aku, Indrian. Aku bisa menjaga diriku untukmu," kata Ira sebelum meninggalkannya.
 
"Tapi aku mengkhawatirkan matamu, Ira," balas Indrian sambil menggenggam erat kedua tangan Ira dan matanya menyorot tajam ke dalam mata Ira.
 
Mendengar kata itu Ira tersenyum. Indrian gemas.
 
"Mataku tak pernah akan beranjak untuk melihat yang lain. Ia hanya akan melihat dirimu. Percayalah," terdengar Ira meyakinkan lelaki di hadapannya.
 
Seekor cecak jatuh tepat di hadapan Indrian kemudian lari terbirit-birit dan menghilang ke bawah kolong yang tampak gelap. Indrian melirik jam dindingnya yang tak berkaca. Tepat jam sepuluh waktu itu. Sama dengan ketika ia berduaan dengan Ira di suatu taman menghabiskan malam terakhir sebelum kekasihnya itu pergi.
 
Indrian bergegas mendekati jendela dan membukanya. Di luar, terlihat bayang-bayang pohon yang tampak berwarna gelap. Rembulan sudah tak seterang waktu dia melukis tadi. Terlihat agak bergeser dan saat itu berada tepat di atas uwung-uwung rumahnya. Cukup lama ia di situ sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar rumah.
 
Indrian berdiri tepat di tengah-tengah halaman rumahnya sambil menghadap ke arah barat. Tak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat pohon mangga yang sudah dua tahun tak berbuah. Pohon itu sengaja tidak ia tebang dan hanya digunakan sebagai tempat ia berteduh sambil melukis pada siang yang panas. Sebentar kemudian Indrian menatap rembulan yang berada tepat di atasnya. Itu membuatnya bermandikan cahaya. Saat itu juga ia seperti melihat mata kekasihnya. Ya, mata kekasihnya itu seperti rembulan. Selalu menimpakan cahaya. Betapa sempurna perempuan yang memiliki mata rembulan. Yang bisa menatapnya dengan cahaya ketulusan yang begitu lembut.
 
Bukankah lebih baik jika ia melukis mata Ira dengan bentuk dua rembulan. Tentu saja begitu, pikir Indrian. Lagi pula ia tak mau mengingkari kalau mata kekasihnya itu seperti dua buah rembulan yang terpasang di wajahnya. Namun sebentar kemudian Indrian mengurungkan niatnya.
 
"Masihkah Ira menjaga kedua matanya untukku?"
 
Keraguan tiba-tiba menyergapnya. Tapi kenapa ia mesti meragukan perempuan. Bukankah makhluk itu dicipta tidak untuk disangsikan atau diragukan. Perempuan adalah makhluk yang memiliki kedekatan sifat dengan kelembutan dan kasih Tuhan. Dan setiap kelembutan atau kasih sayang tak pernah menyimpan pengkhianatan. Untuk apa ia meragukan Ira. Indrian kembali menatap rembulan itu.
 
Malam itu, Indrian seperti berada dalam kedamaian. Kedamaian seorang pecinta yang sedang merindukan kedua bola mata kekasihnya yang jauh di rantau. Begitu besarnya rasa rindunya sehingga ia berjanji akan melewatkan malam itu sambil menatap rembulan dan mengiringinya sampai benar-benar tenggelam di siang nanti. Betapa rembulan itu mampu mengingatkannya kepada Ira yang dicintainya.
 
"Silakan bermimpi tentang aku, Ira. Malam ini aku akan menjaga malammu di halaman ini. Setidaknya agar engkau tak pernah lupa bahwa aku masih berdiri menantimu," Indrian bergumam. Dilipatnya kedua lengannya di atas dadanya yang tipis. Indrian seperti mengucapkan kalimat itu kepada malam dan angin. Dalam hati ia berharap semoga akan sampailah kata-katanya ke alam di mana kekasihnya berada.
 
Entah berapa lama Indrian berada di halaman itu. Duduk di atas kursi yang biasa ia gunakan sebagai tempat duduk jika sedang melukis. Namun waktu ia membuka kedua matanya, hari sudah nampak siang. Sepertinya aku tertidur, bisiknya. Ia mengangkat kedua tangannya sebelum mengusapkan telapaknya ke wajah.
 
Matanya kemudian menangkap sesuatu di atas meja yang terletak tak jauh dari hadapannya. Secarik amplop surat baru. Ia menengok ke semua arah berharap mengetahui siapa yang telah meletakkan surat itu tanpa membangunkannya terlebih dahulu. Namun keadaan masih sunyi. Dan sepertinya tak ada tanda-tanda kalau seseorang baru saja keluar dari halaman rumahnya.
 
Sejenak Indrian menatap surat itu. Tertera namanya di sana. Namun ia tak tahu siapa pengirimnya. Di bagian belakang amplop memang tertulis, Martin Hesse. Tapi Indrian merasa tak pernah kenal kepada orang yang memiliki nama seperti itu. Indrian membuka surat itu dan membacanya. Darahnya tersirap, pandangannya kabur, dan kemudian ia terjerembap ke atas kursinya kembali.
 
"Bagaimana mungkin Ira harus kehilangan kedua matanya. Apa yang terjadi?" Indrian seperti gelisah setelah membaca surat itu. Semula ia tak mau memercayai begitu saja isi surat yang menyatakan kalau kekasihnya tertimpa suatu kecelakaan yang membuat kedua matanya buta. Tidak, ini tak boleh terjadi. Apa pun alasannya aku tetap mengagumi kedua bola mata itu. Isi surat itu menjadikan Indrian seperti orang yang kehilangan kesadarannya.
 
Dengan langkah tergesa ia bergerak menuju toko yang tak jauh dari rumahnya. Ia bermaksud membalas surat itu. Ira harus segera mendapat balasan darinya. Sejurus kemudian ia sudah memegang selembar kertas yang sudah ia tulis, amplop yang sudah tertempel perangko kilat balasan, sebilah pisau dapur mengkilat. Surat yang baru saja ditulisnya sudah ia masukkan ke dalam amplop. Kemudian ia raih pisau itu dan menatap dengan agak lama kilatannya.
 
Pada pagi hari yang sunyi itu, sesuatu akan dimulai dalam hidup Indrian. Ia telah mengambil keputusan mantap akan apa yang harus ia lakukan pagi itu. Sebuah pengorbanan seorang kekasih akan ia buktikan pagi itu. Kemudian...
 
Crass....
 
Ujung pisau itu menancap di mata kanan Indrian. Dengan tangannya Indrian mencongkel mata kanannya dan mengeluarkannya. Darah mengalir melalui pipinya dan menggenang di atas perutnya. Namun ia tak peduli. Dipandu mata kirinya ia memasukkan bola matanya itu ke dalam kantong plastik. Betapa ia mengagumi bola matanya sendiri waktu itu. Namun sesudah itu ia kembali mengarahkan ujung pisaunya ke mata kirinya dan mencongkelnya dengan agak keras sehingga mata itu terlontar. Lepas dari tangannya.
 
Indrian meraba bola matanya yang satu. Ia mendapatkan bola mata itu tidak jauh dari kakinya dan terasalah kalau bola mata itu dipenuhi pasir. Perih kembali menyergap. Namun ia tahan sambil tangannya membersihkan pasir yang menempel di bola matanya. Tak ada yang bisa ia lihat saat itu kecuali gelap dan rasa perih yang ia tahan. Dengan kedua tangannya Indrian memasukkan kedua bola matanya ke dalam amplop dan merekatkannya dengan lem yang sudah ia sediakan. Lalu bergegas dengan langkah tertatih menuju kotak surat yang berada di pinggir jalan depan rumahnya.
 
Indrian kembali masuk ke dalam kamarnya dengan langkah yang meraba-raba.
 
"Ira. Aku sudah merasakan bagaimana rasanya kau kehilangan kedua matamu yang selama ini aku sanjung-sanjung. Namun jangan khawatir, sebentar lagi kau akan mendapatkan gantinya. Mata antara yang mencinta dan yang dicintai tak jauh berbeda. Jangan ragu. Pakailah mataku dan lekas kembalilah ke padaku. Aku akan segera menyelesaikan lukisan matamu dengan keadaanku yang sekarang. Keadaanku yang tak bisa melihat apa-apa, namun mengerti akan keindahan matamu yang sesungguhnya" kata Indrian sebelum merebahkan dirinya di atas amben.
 
Kini, semua yang dilihatnya hanyalah gelap. Indrian tersenyum. Ia telah berkorban, dan itu sempurna.
***

Yogyakarta, 2007. http://sastra-indonesia.com/2021/07/sepasang-mata-untuk-perempuan/

No comments:

Post a Comment

A. Anzieb A. Muttaqin A. Qorib Hidayatullah A. Rifqi Hidayat A. Rodhi Murtadho A. Syauqi Sumbawi A.J. Susmana A.S. Laksana A'yat Khalili Abdul Hadi WM Abdul Hopid Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Acep Zamzam Noor Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus Dermawan T. Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sunyoto Agus Wibowo Agusri Junaidi Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Muchlish Amrin Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akhudiat Ali Audah Alim Bakhtiar Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Ana Mustamin Andhika Mappasomba Andi Achdian Andrenaline Katarsis Anjrah Lelono Broto Anton Wahyudi Anwar Holid Aprinus Salam Arafat Nur Ardy Kresna Crenata Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Wibowo Arman A.Z. Arsyad Indradi Aryadi Mellas Aryo Bhawono Asap Studio Asarpin Asep Rahmat Hidayat Asep Sambodja Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif B Kunto Wibisono Badaruddin Amir Balada Bambang Kempling Bambang Soebendo Banjir Bandang Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Binhad Nurrohmat Boy Mihaballo Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerbung Cerpen Chairil Gibran Ramadhan D. Zawawi Imron D.N. Aidit Daisy Priyanti Dandy Bayu Bramasta Daniel Dhakidae Dareen Tatour Dea Anugrah Dedy Sufriadi Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desti Fatin Fauziyyah Dewi Sartika Dhanu Priyo Prabowo Dharmadi Diah Budiana Dian Hartati Didin Tulus Djoko Pitono Djoko Saryono Donny Anggoro Dwi Pranoto Echa Panrita Lopi Eddi Koben Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Faizin Emha Ainun Nadjib Enda Menzies Erlina P. Lestari Erwin Dariyanto Esai Esti Ambirati Evi Idawati Evi Sefiani F. Daus AR F. Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fandy Hutari Farah Noersativa Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Faza Bina Al-Alim Felix K. Nesi Ferdian Ananda Majni Fian Firatmaja Gampang Prawoto Gema Erika Nugroho Goenawan Mohamad Gola Gong Gombloh Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Gus Noy H.B. Jassin Hairus Salim Hamka Hamsad Rangkuti Hari Murti Haris Firdaus Harry Aveling Hasan Aspahani Hasif Amini HE. Benyamine Hendri Yetus Siswono Herman Syahara Hermien Y. Kleden Holy Adib Huda S Noor Hudan Hidayat Hudan Nur Humam S Chudori Husni Hamisi I G.G. Maha Adi Iberamsyah Barbary Ida Fitri Idealisa Masyrafina Idrus Ignas Kleden Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilham Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indria Pamuhapsari Indrian Koto Irfan Sholeh Fauzi Isbedy Stiawan Z.S. J.J. Kusni Jadid Al Farisy Jajang R Kawentar Jakob Oetama Jalaluddin Rakhmat Jansen H. Sinamo Joni Ariadinata K.H. Bisri Syansuri K.H. M. Najib Muhammad Kahfi Ananda Giatama Kahfie Nazaruddin Kho Ping Hoo Kika Dhersy Putri Kitab Para Malaikat Kritik Sastra Kucing Oren Kunni Masrohanti Kuswinarto L.K. Ara Lagu Laksmi Shitaresmi Lan Fang Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Tolstoy Leon Agusta Lesbumi Yogyakarta Lily Yulianti Farid Linda Christanty Linda Sarmili Lukisan Lutfi Mardiansyah Luwu Utara M. Aan Mansyur M. Faizi M. Raudah Jambak M. Shoim Anwar M.D. Atmaja M’Shoe Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Majene Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mamasa Mamuju Mardi Luhung Marhalim Zaini Maroeli Simbolon Martin Aleida Masamba Mashuri Media KAMA_PO Melani Budianta Mihar Harahap Misbahus Surur Mochtar Lubis Moh. Jauhar al-Hakimi Mohammad Afifi Mohammad Yamin Much. Khoiri Muhammad Fauzi Muhammad Muhibbuddin Muhammad Ridwan Muhammad Subarkah Muhammad Walidin Muhammad Yasir Muhyiddin Mukhsin Amar Munawir Aziz Musa Ismail Mustamin Almandary N Teguh Prasetyo Nadine Gordimer Nara Ahirullah Nelson Alwi Nikita Mirzani Nirwan Ahmad Arsuka Nizar Qabbani Nugroho Sukmanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Asyhadie Nurul Komariyah Ocehan Onghokham Otto Sukatno CR Pamela Allen Pameran Parakitri T. Simbolon Pelukis Pendidikan Penggalangan Dana Peta Provinsi Sulawesi Barat Polewali Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Salafiyah Karossa Pramoedya Ananta Toer Pramuka Prasetyo Agung Pringadi AS Pringgo HR Priska Prosa Pudyo Saptono Puisi Puput Amiranti N Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R Sutandya Yudha Khaidar R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Raedu Basha Ragdi F. Daye Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sutandya Yudhanto Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Prabu Ratnani Latifah Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Riadi Ngasiran Rian Harahap Ribut Wijoto Rida K Liamsi Riki Fernando Rofiqi Hasan Ronny Agustinus Rozi Kembara Rusydi Zamzami Rx King Motor S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Safar Nurhan Saini K.M. Sajak Salman Rusydie Anwar Salman S Yoga Samsul Anam Sapardi Djoko Damono Sapto Hoedojo Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Seni Rupa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sirajudin Siswoyo Sitok Srengenge Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sonia Sosiawan Leak Sukitman Sulawesi Selatan Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suriali Andi Kustomo Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syaifuddin Gani Syamsudin Noer Moenadi Syihabuddin Qalyubi Syu’bah Asa Tari Bamba Manurung Tari Bulu Londong Tari Ma’Bundu Tari Mappande Banua Tari Patuddu Tari Salabose Daeng Poralle Tari Sayyang Pattuqduq Tari Toerang Batu Tata Chacha Tatan Daniel Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teddi Muhtadin Teguh Setiawan Pinang Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tito Sianipar Tjahjono Widijanto Toeti Heraty Tosiani Tri Wahono Udin Badruddin Udo Z. Karzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Usman Arrumy UU Hamidy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wan Anwar Wawancara Wayan Sunarta Welly Kuswanto Wicaksono Wicaksono Adi Wilson Nadeak Wisata Yohanes Sehandi Yonatan Raharjo Yopie Setia Umbara Yosephine Maryati Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yurnaldi Zamakhsyari Abrar