Monday, June 21, 2021

Kisah Mimpi Anak-anak dalam Ingin Bertemu Peri

Musa Ismail *
Riau Pos, 6 Jan 2013
 
Ulam Kata
 
Sastra merupakan seni tanpa batas. Semua cakupannya mampu melampaui segala aspek kehidupan, baik ditinjau dari unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsiknya. Karena itu, tak berlebihan jika  saya mengatakan bahwa sastra ibarat induk seni. Tak salah juga kalau Taufik Ikram Jamil menegaskan bahwa sastra merupakan rajawali seni. Melalui sastra, semua orang bisa mengeksplorasi kehidupan yang mampu mengungkapkan etika, logika dan estetika. Eksplorasi ini juga tak terbatas, termasuk di dunia anak-anak.
 
Dalam hal ini, sastra memberi ruang khusus terhadap dunia anak-anak. Secara psikologis, anak-anak bukanlah bentuk mini dari manusia dewasa. Dunia mereka merupakan dunia yang dipenuhi imajinasi murni. Melalui sastra juga, anak-anak akan berproses mengembangkan imajinasinya sehingga jadi lebih matang,  berprikemanusiaan dan  berkebudayaan yang ranggi. Anak-anak yang imajinasinya bisa dikembangkan melalui sastra akan membentuk karakter budaya yang kuat. Dalam hal ini, menurut saya, pendidikan karakter sebaiknya didasari dengan karya sastra.
 
Menurut Wahidin, sastra anak adalah sastra yang secara khusus bisa dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak yang berusia antara 6 hingga 13 tahun. Namun, Wahidin memberi batasan—yang tak sepantasnya menurut saya—yaitu sifat sastra anak adalah imajinasi semata. Menurut saya, sifat imajinasi anak-anak justru menjadi dasar suatu fakta secara psikologia, sesuai dengan karakteristik dunia mereka. Pendapat Tarigan, sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak. Sementara itu, Lynch-Brown dan Tomlinson mengatakan, sastra anak adalah buku bacaan yang baik, diperuntukkan pada anak sejak lahir sampai remaja, mencakup topik-topik yang relevan dan menarik bagi anak melalui prosa dan puisi, fiksi dan nonfiksi.
 
Sebagian orang berpendapat, sastra anak kurang dapat perhatian khusus, terutama dalam hal pemberian penghargaan. Apalagi jika penulisnya adalah anak-anak. Fenomena ini merupakan kekeliruan fatal jika dikaitkan dengan pembentukan tradisi tulis di negara kita. Cikal bakal penulisan anak-anak sudah seharusnya mendapat tempat khusus dalam apresiasi seni. Dalam ulam kata ini, kita berharap ada lembaga khusus yang peduli untuk memberi penghargaan terhadap penulis cilik dan penulis cerita anak-anak umumnya.
 
Kisah Mimpi Anak-Anak
 
Saya yakin, kita tak pernah mengenal Wiska Adelia Putri. Dara kecil ini lahir di Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), 8 Maret 2002. Ananda pasangan Maswito dan Kartina ini, kecil-kecil punya karya cerpen anak-anak. Sungguh luar biasa karena Wiska sudah punya kumpulan cerpen perdananya bertajuk Ingin Bertemu Peri (IBP) di usia sembilan tahun. Karyanya ini terdiri atas 14 cerita anak yang diterbitkan Framepublishing (Jogjakarta, 2011). Untuk tradisi tulis di Riau dan Kepri, Wiska patut mendapat perhatian karena negeri Melayu ini sangat langka dengan penulis cilik. Bahkan, cerita yang ditulisnya sudah diterbitkan Media Indonesia.
 
Dari 14 cerita anak yang terangkum dalam IBP, terdapat 4 cerita yang terlahir dari dunia fantasi Wiska, itupun tak fantasi murni, yaitu ‘’Impian Ibu Pina’’, ‘’Ingin Bertemu Peri’’, ‘’My Dream’’, ‘’Barbie Bisa Bisa Bicara’’ dan ‘’Pohon Ajaib’’. Di dalam fantasinya, Wiska masih mampu bermain dengan imajinasi dan kenyataan sehari-hari. Dengan bahasa khas anak-anak, Wiska justru mampu memunculkan jiwa anak-anak bagi pembaca yang bukan berstatus anak-anak lagi.
 
Ide-ide yang dituangkan dalam 14 kisah tersebut mengandung nilai-nilai luhur kemanusiaan. Secara telaah konten, ada beberapa nilai yang ingin disampaikan Wiska (meski dia tak secara sadar ingin menyampaikan pesan tersebut). Pertama, nilai kekompakan atau persatuan dan saling memaafkan. Nilai ini dapat kita temukan dalam kisah ‘’One Heart’’. Kedua, keikhlasan dan tidak sombong, terkandung dalam kisah ‘’Impian Ibu Pina’’. Ketiga, di dalam kisah Pizza Hut (menurut saya, ide yang menarik), terkandung nilai menabung dan menjaga jatidiri. Keempat, nilai-nilai religius terdapat dalam kisah ‘’Puasa’’, ‘’Hari Raya’’ dan ‘’Pelukan Doa’’. Kelima, nilai-nilai giat berusaha, saling menolong dan mencintai lingkungan terdapat dalam kisah ‘’Sepeda Baru’’, ‘’Pohon Ajaib’’ dan ‘’Kakak Beradik yang Suka Membantu’’.
 
Seperti pada umumnya, cerita anak-anak identik dengan dongeng atau cerita rakyat (folklore). Namun, tak demikian halnya dengan kisah-kisah yang dituangkan Wiska dalam IBP. Wiska boleh dikatakan berhasil menepis anggapan bahwa cerita anak hanya fantasi, tanpa mengeksplorasi kenyataan hidup sehari-hari. Ide-ide yang dituangkan Wiska justru lebih realistis-imajinatif dan sangat dekat dengan kehidupan anak-anak. Imajinasi-imajinasi Wiska juga tak kalah liar, segar dan provokatif dalam tulisannya. Wiska juga telah membuktikan bahwa imajinasi itu sangat penting. Tentang imajinasi, Albert Einstein mengatakan, imajinasi jauh lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan hanya terbatas pada apa yangkita tahu dan mengerti, sedangkan imajinasi mencakup seluruh dunia, termasuk untuk yang diperlukan untuk tahu dan dimengerti.
 
Kendatipun di sana sini masih terdapat kekurangan dalam kisah yang ditulisnya, tetapi Wiska telah menunjukkan kecerdasan linguistik. Kelemahan-kelemahan yang bisa diperbaiki untuk masa mendatang, yaitu peramuan konflik. Wiska perlu latihan yang banyak untuk membangun  konflik-konflik dalam kisah-kisah yang ditulisnya. Apalagi saat ini, Wiska sedang menulis novel. “Baru dua bab,” kata Bundanya. Semoga Wiska menjadi penerus penulis masa depan bumi Melayu.
***
 
*) Musa Ismail, Sastrawan Riau yang telah menghasilkan banyak karya. Karya-karyanya telah pula dimuat di berbagai media massa. Musa juga meraih beberapa penghargaan bergengsi dalam bidang budaya dan sastra. Kini tercatat sebagai guru SMAN 3 Bengkalis dan bermastautin di Kota Bengkalis. http://sastra-indonesia.com/2021/06/kisah-mimpi-anak-anak-dalam-ingin-bertemu-peri/

No comments:

Post a Comment

A. Anzieb A. Muttaqin A. Qorib Hidayatullah A. Rifqi Hidayat A. Rodhi Murtadho A. Syauqi Sumbawi A.J. Susmana A.S. Laksana A'yat Khalili Abdul Hadi WM Abdul Hopid Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Acep Zamzam Noor Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus Dermawan T. Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sunyoto Agus Wibowo Agusri Junaidi Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Muchlish Amrin Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akhudiat Ali Audah Alim Bakhtiar Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Ana Mustamin Andhika Mappasomba Andi Achdian Andrenaline Katarsis Anjrah Lelono Broto Anton Wahyudi Anwar Holid Aprinus Salam Arafat Nur Ardy Kresna Crenata Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Wibowo Arman A.Z. Arsyad Indradi Aryadi Mellas Aryo Bhawono Asap Studio Asarpin Asep Rahmat Hidayat Asep Sambodja Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif B Kunto Wibisono Badaruddin Amir Balada Bambang Kempling Bambang Soebendo Banjir Bandang Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Binhad Nurrohmat Boy Mihaballo Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerbung Cerpen Chairil Gibran Ramadhan D. Zawawi Imron D.N. Aidit Daisy Priyanti Dandy Bayu Bramasta Daniel Dhakidae Dareen Tatour Dea Anugrah Dedy Sufriadi Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desti Fatin Fauziyyah Dewi Sartika Dhanu Priyo Prabowo Dharmadi Diah Budiana Dian Hartati Didin Tulus Djoko Pitono Djoko Saryono Donny Anggoro Dwi Pranoto Echa Panrita Lopi Eddi Koben Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Faizin Emha Ainun Nadjib Enda Menzies Erlina P. Lestari Erwin Dariyanto Esai Esti Ambirati Evi Idawati Evi Sefiani F. Daus AR F. Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fandy Hutari Farah Noersativa Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Faza Bina Al-Alim Felix K. Nesi Ferdian Ananda Majni Fian Firatmaja Gampang Prawoto Gema Erika Nugroho Goenawan Mohamad Gola Gong Gombloh Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Gus Noy H.B. Jassin Hairus Salim Hamka Hamsad Rangkuti Hari Murti Haris Firdaus Harry Aveling Hasan Aspahani Hasif Amini HE. Benyamine Hendri Yetus Siswono Herman Syahara Hermien Y. Kleden Holy Adib Huda S Noor Hudan Hidayat Hudan Nur Humam S Chudori Husni Hamisi I G.G. Maha Adi Iberamsyah Barbary Ida Fitri Idealisa Masyrafina Idrus Ignas Kleden Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilham Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indria Pamuhapsari Indrian Koto Irfan Sholeh Fauzi Isbedy Stiawan Z.S. J.J. Kusni Jadid Al Farisy Jajang R Kawentar Jakob Oetama Jalaluddin Rakhmat Jansen H. Sinamo Joni Ariadinata K.H. Bisri Syansuri K.H. M. Najib Muhammad Kahfi Ananda Giatama Kahfie Nazaruddin Kho Ping Hoo Kika Dhersy Putri Kitab Para Malaikat Kritik Sastra Kucing Oren Kunni Masrohanti Kuswinarto L.K. Ara Lagu Laksmi Shitaresmi Lan Fang Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Tolstoy Leon Agusta Lesbumi Yogyakarta Lily Yulianti Farid Linda Christanty Linda Sarmili Lukisan Lutfi Mardiansyah Luwu Utara M. Aan Mansyur M. Faizi M. Raudah Jambak M. Shoim Anwar M.D. Atmaja M’Shoe Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Majene Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mamasa Mamuju Mardi Luhung Marhalim Zaini Maroeli Simbolon Martin Aleida Masamba Mashuri Media KAMA_PO Melani Budianta Mihar Harahap Misbahus Surur Mochtar Lubis Moh. Jauhar al-Hakimi Mohammad Afifi Mohammad Yamin Much. Khoiri Muhammad Fauzi Muhammad Muhibbuddin Muhammad Ridwan Muhammad Subarkah Muhammad Walidin Muhammad Yasir Muhyiddin Mukhsin Amar Munawir Aziz Musa Ismail Mustamin Almandary N Teguh Prasetyo Nadine Gordimer Nara Ahirullah Nelson Alwi Nikita Mirzani Nirwan Ahmad Arsuka Nizar Qabbani Nugroho Sukmanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Asyhadie Nurul Komariyah Ocehan Onghokham Otto Sukatno CR Pamela Allen Pameran Parakitri T. Simbolon Pelukis Pendidikan Penggalangan Dana Peta Provinsi Sulawesi Barat Polewali Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Salafiyah Karossa Pramoedya Ananta Toer Pramuka Prasetyo Agung Pringadi AS Pringgo HR Priska Prosa Pudyo Saptono Puisi Puput Amiranti N Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R Sutandya Yudha Khaidar R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Raedu Basha Ragdi F. Daye Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sutandya Yudhanto Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Prabu Ratnani Latifah Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Riadi Ngasiran Rian Harahap Ribut Wijoto Rida K Liamsi Riki Fernando Rofiqi Hasan Ronny Agustinus Rozi Kembara Rusydi Zamzami Rx King Motor S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Safar Nurhan Saini K.M. Sajak Salman Rusydie Anwar Salman S Yoga Samsul Anam Sapardi Djoko Damono Sapto Hoedojo Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Seni Rupa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sirajudin Siswoyo Sitok Srengenge Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sonia Sosiawan Leak Sukitman Sulawesi Selatan Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suriali Andi Kustomo Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syaifuddin Gani Syamsudin Noer Moenadi Syihabuddin Qalyubi Syu’bah Asa Tari Bamba Manurung Tari Bulu Londong Tari Ma’Bundu Tari Mappande Banua Tari Patuddu Tari Salabose Daeng Poralle Tari Sayyang Pattuqduq Tari Toerang Batu Tata Chacha Tatan Daniel Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teddi Muhtadin Teguh Setiawan Pinang Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tito Sianipar Tjahjono Widijanto Toeti Heraty Tosiani Tri Wahono Udin Badruddin Udo Z. Karzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Usman Arrumy UU Hamidy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wan Anwar Wawancara Wayan Sunarta Welly Kuswanto Wicaksono Wicaksono Adi Wilson Nadeak Wisata Yohanes Sehandi Yonatan Raharjo Yopie Setia Umbara Yosephine Maryati Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yurnaldi Zamakhsyari Abrar